"Kondisi kita saat ini, secara lahiriah, adalah hasil dari serangkaian keputusan yang kita buat di masa lalu.""Hidup adalah tentang membuat keputusan. Bahkan, diam ataupun tidak memilih adalah sebuah keputusan."
Topik Tantangan Mamah Gajah Ngeblog kali ini sebetulnya sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari. Habis menyiapkan sarapan dan bekal anak sekolah, aku pun langsung dihadapkan dua pilihan: mau cuci piring atau duduk di ruang makan sambil scrolling?
Parahnya, lebih sering kita "tidak sadar" sedang mengambil keputusan. Contohnya tadi, tiba-tiba HP sudah di tangan dan mataku asyik membaca serial komik di aplikasi Webtoon. Juga, aku yang "memilih" menunda membuat tulisan tantangan kali ini. Pasalnya, setelah beberapa kali memikirkan topiknya, rasanya kok topik-topik itu terlalu personal, ya?
Padahal, yang mau aku tuliskan di bawah ini juga topiknya amat personal. Akhirnya, baru mulai dituliskan di dua jam terakhir sebelum deadline (:
Tipe Cowok Idaman
Waktu SMA aku udah pernah iseng nulisin tipe cowok idaman di notes Facebook. Di nomor 24 dalam daftar kriteria cowok idaman, aku menuliskan "yes" untuk cowok berkacamata. Di mataku, cowok berkacamata tampak kharismatik dan pinter.
Makanya, dulu aku melihat orang berkacamata bukan sebagai “kekurangan”. Malah tampak keren sampai-sampai aku sendiri yang memiliki mata normal pun ingin pakai kacamata di keseharian.
Pandanganku Kabur
Aku mulai menyadari pandanganku kabur sejak kuliah. Setiap habis mengerjakan ujian di sore hari, aku berjalan ke arah parkiran dengan pandangan mata yang samar-samar.
Aku pikir, palingan mataku lelah setelah dua jam memandangi tulisan di kertas pada jarak dekat. Toh pandangan mataku cuma kabur di saat petang. Jadi, aku abaikan saja.
Suatu hari, sekitar tahun 2013, aku pergi ke luar negeri dengan keluargaku. Saat di bandara, Papa memintaku membaca sesuatu di layar yang agak jauh. Aku bilang, gak keliatan tulisannya.
Sepulang dari perjalanan, aku dan adikku langsung dibawa ke dokter mata untuk pengecekan. Mataku masih oke. Minus 0.25 saja. Dokter bilang aku belum perlu pakai kacamata. Mataku hanya agak kering.
Adikku yang tidak mengeluh soal pandangan kabur justru minus setengah (kalau tidak salah) dan dia harus mulai pakai kacamata saat itu. Aku kecewa (karena gak perlu pakai kacamata) dan iri sama adikku! Huwee
Menikah dengan Cowok Berkacamata
Sesuai kriteria cowok idaman, suamiku berkacamata. Aku gak menyangka, suamiku ternyata minusnya besar. Kaca yang ia pakai cukup tebal. Sepertinya waktu kami nikah, minus 9.
Aku pikir, suamiku keren. Keliatan pinter dengan kacamatanya. Tak disangka, ada saja masalah yang berhubungan dengan kacamata.
Aku pernah tanpa sengaja menjatuhkan kacamata suami waktu kami lagi tinggal di Perancis selama 2 bulan. Mana frame-nya sampai retak dan lensanya lepas.
Karena cuma tinggal sebentar di luar negeri, kami tidak pergi ke optik terdekat untuk memperbaikinya. Suami cuma menempelkan selotip ke lensanya.
Pulang ke Indonesia, suami beli kacamata baru sebelum berangkat ke Amerika. Setelah aku menyusul suamiku ke Amerika, tahun 2020 kami kecelakaan mobil. Pas kejadian, kacamata suamiku terlempar sampai frame-nya patah menjadi dua bagian dan lensanya terlepas.
Waktu itu kondisi keuangan kami lagi sulit: hanya mengandalkan beasiswa untuk hidup bertiga, harus benerin mobil yang ringsek bagian depannya, juga aku baru melahirkan (jadi biaya hidupnya buat berempat). Alhasil, suami gak beli kacamata baru: hanya diperbaiki dengan membuat frame baru menggunakan kawat hanger lalu menempelkan lensanya pakai super glue. Beruntung dulu suami mengerjakan riset dari rumah, jadi gak perlu ketemu orang lain.
Kacamata rakitan ini tentu saja sangat tidak reliable. Kadang-kadang lensanya copot sendiri. Padahal suami sangat bergantung pada kacamatanya. 10 jam sehari ia pakai untuk bekerja di depan komputer.
Suatu saat, aku diminta bantuan untuk memperbaiki lensanya yang lepas. Aku perlu memegang frame-nya, suami akan memasangkan lensanya yang sudah diberi lem.
Keputusan kecil yang aku buat saat itu adalah meladeni anakku yang minta sesuatu di tengah saat krusial. Aku menoleh ke arah anakku, tanganku bergoyang waktu pegang frame-nya, dan mengenai tangan suamiku yang pegang lensa. Lensa kaca itu jatuh ke lantai dan terbelah menjadi dua.
Kenapa gak di meja aja memperbaikinya? Takut super gluenya nempel di kacamata dan meja. Nanti malah kacamatanya nempel ke meja.
Suami cukup kesal karena dia jadi tidak bisa mengerjakan riset dengan baik (gak enak juga liat komputer pakai kacamata hanya 1 lensa). Walaupun akhirnya suami pergi ke optik buat beli kacamata baru, butuh waktu 1 - 2 minggu sampai kacamata barunya beres.
Kecerobohanku Menggunakan Mata
Tahun 2021, aku mulai aktif ngeblog lagi. Aku mengikuti sebuah kelas ngeblog yang cukup intensif: dua kali seminggu aku perlu menyelesaikan tugas posting minimal 800 kata.
Demi bisa lulus kelas itu, aku sering begadang. Malam-malam di kamar yang gelap, aku mengetik blog di HP. Tentu saja aku lakukan sembunyi-sembunyi.
Hingga suatu hari, suamiku memergoki aku. Aku dinasehati macam-macam. Waktu itu aku cukup sesumbar: mataku baik-baik aja kok meskipun dipakai main HP malem-malem di tempat gelap. Buktinya, pas aku cek mata lagi, minusnya masih sama aja kayak tahun 2013 itu.
Keputusan kecil yang aku kira gak bakal berdampak waktu itu adalah tetap menggunakan HP di tempat gelap. Aku memaksa mataku melihat tulisan kecil di HP. Padahal suamiku sudah pernah mewanti-wanti, “Kamu nanti jadi penglihatanku kalau mataku kenapa-kenapa”
Itu bukan mendramatisir keadaan. Minus yang tinggi memang beresiko terlepasnya retina yang bisa menyebabkan kebutaan.
Alergi Kacamata
Tahun 2024 suami ganti kacamata yang framenya terbuat dari plastik tanpa nose pad. Ini pertama kalinya suami pakai frame kayak gini. Rupanya, frame tipe ini gampang banget melorot di hidung.
![]() |
| Lihat bagian tengah tempat naroh hidung |
![]() |
| Bedakan dengan ini yang ada nose pad di tengah, buat naroh hidung |
Suami beli stiker nose pad yang ditempelin ke frame. Ternyata perekat stiker itu kurang kuat jadi suami ngide nempelin nose pad pakai super glue.
Suatu hari, hidung suami mulai gatal. Jadi aku diminta membersihkan frame suami yang bekas kena superglue pakai cairan disinfektan. Bukannya mereda, gatal di hidung suami tambah parah. Jadi ada luka memerah.
Berbulan-bulan kami berusaha menyembuhkan hidung suami dengab mencoba berbagai krim kulit, ke dokter kulit, sampai malem-malem harus ke urgent care karena kondisi kulit hidung suami memerah dan mengeluarkan banyak cairan.
Keputusan kecilku adalah menurut saja waktu suami minta kacamatanya dibersihkan dengan cairan disinfektan. Ternyata, cairan itu menyebabkan iritasi pada kulit hidung suami yang diperparah dengan gesekan frame kacamata pada hidung. Padahal aku tau, habis bersihin apapun pakai cairan disinfektan, aku harus cuci tangan pakai sabun. Lah, ini malah aku biarkan cairannya menempel ke frame kacamata dan jadi menempel ke kulit hidung.
Akhirnya, suami terpaksa harus mulai pakai lensa kontak dan meninggalkan kacamatanya. Karena iritasi di hidung suami gak bakal bisa sembuh kalau permukaan kulitnya masih bergesekan dengan sesuatu.
Yha, hilang sudah satu kriteria cowok idaman darinya 😅
Aku Beneran Pakai Kacamata
April lalu aku habis mendapat tindakan yang memerlukan bius total. Karena itu pertama kalinya seumur hidupku kena bius total, selama semiggu setelahnya, aku merasa kayak orang yang hidup di awang-awang.
Aku menyadari, apa yang aku lihat jadi semakin kabur, bukan cuma pas petang. Setelah cukup lama menunda, akhirnya aku cek mata dan ternyata mataku minus 1.
Harusnya aku seneng ya, cita-cita masa kecilku tercapai. Tapi enggak. Ternyata pakai kacamata tuh ribet huhu
Masa penyesuaiannya panjang: kepalaku sering sakit meskipun udah pakai kacamata. Belum lagi kacamatanya sering melorot dari hidung. Terus, aku jadi harus mikir hijab style baru biar wajahku keliatan natural pakai kacamata. Sampai sekarang, aku pun masih belum nemu ðŸ˜
Ternyata, urusan kacamata ini gak sesimpel keliatan keren. Ada struggle yang gak pernah aku bayangin sebelumnya karena belum pernah pakai kacamata setiap harinya. Sekarang, aku kangen mataku yang bisa melihat dengan jelas tanpa kacamata :')





Posting Komentar
Posting Komentar