Ilma Hidayati Purnomo

Rantai Kebahagiaan dari Kartu Pos

Posting Komentar
Bulan April lalu, Teh Lenny, anggota Mamah Gajah Ngeblog, berinisiatif mengirim kartu pos kepada semua peserta tantangan pada bulan itu. Syukurlah, aku menjadi salah satu di antara 20 orang yang akan menerima kartu pos yang dikirim dari Jerman!

Saat memberikan informasi alamat rumahku ke Teh Lenny, aku sampaikan juga betapa aku sangat menantikan kartu pos darinya. Pasalnya, ini pertama kalinya aku akan menerima kartu pos seumur hidupku.

Teh Lenny mengabarkan bahwa seluruh kartu pos yang ia tulis sudah dikirim pada bulan Mei. Akhir Juni lalu, di antara tumpukan surat tagihan, terselip kartu pos bergambar rak buku. Sungguh aku gembira! Aku kagum membayangkan secarik kertas ini bertualang dari Jerman sampai Amerika.
Cerita soal pertama kalinya aku mendapat kartu pos itu aku tuliskan di grup menulis khusus muslim Indonesia yang tinggal (atau pernah tinggal) di Amerika. Di akhir tulisan, aku menyematkan pertanyaan, "Kira-kira kalau kita adakan saling berkirim kartu pos, ada yang mau ikut?"

Ternyata ada beberapa anggota yang tertarik. Sebagai pengelola grup, aku mengumpulkan anggota yang ingin ikut kegiatan saling berkirim kartu pos. Totalnya ada delapan orang, tujuh orang tinggal di Amerika, satu orang tinggal di Jepang.

Aku mulai mencari tahu di mana bisa beli kartu pos. Aku terbentur kenyataan bahwa kantor pos di sini tidak menjual kartu pos. Aku harus pergi ke toko oleh-oleh untuk membeli kartu pos. Harga kartu pos itu tidak mahal, hanya $0,25 perkartu (sekitar Rp 4.400,-). Namun, saat mengamati kartu pos yang hendak aku beli, aku menyadari bahwa aku juga bisa mencetak sendiri kartu posku!

Saat itu, aku hanya beli empat kartu pos. Aku mencari di mesin pencari soal ketentuan kartu pos. Ternyata, aku bisa menggunakan kertas foto ukuran 4 x 6 inci sebagai kartu pos. Aku masih punya beberapa kertas foto berukuran serupa yang belum aku pakai. Aku cari beberapa foto pemandangan di ponselku lalu mencetaknya di kertas foto.

Setelah melakukan beberapa percobaan supaya hasil foto yang dicetak tidak kabur dan warnanya sesuai, aku menuliskan pesan di balik foto. Rupanya, kertas di balik foto yang aku cetak, permukaannya kesat. Tinta pulpen yang aku goreskan menjadi cepat kering. Berbeda dengan kertas kartu pos yang aku beli. Permukaan kertasnya licin sehingga diperlukan waktu lama sampai tinta pulpenku kering.

Aku juga harus beli perangko. Saat itu, aku pergi ke salah satu toko retail (bukan kantor pos). Penjaga toko bertanya, berapa perangko yang aku butuhkan. Lalu, ia mencetak perangko itu ke blangko kosong. Aku memesan enam perangko domestik masing-masing seharga $0,78 (sekitar Rp 13.700,-) dan dua perangko internasional masing-masing seharga $1,75 (sekitar Rp 30.800,-).

Selesai menulis kartu, aku pergi ke kantor pos. Sebelum mengirimnya, aku bertanya ke staf di kantor pos apakah perangko yang aku pasang sudah sesuai. Staf di sana berkata bahwa seharusnya harga perangko yang digunakan lebih murah daripada yang aku beli. Aku sedikit kecewa karena perangko dari kantor pos lebih murah dan gambarnya lebih bagus. Karena sudah telanjur, aku kirim saja kartu posnya.

Kartu pos yang aku kirim akan berkelana dari ujung barat Amerika ke berbagai belahan Amerika bahkan ke Jepang dan Jerman (aku mengirim kartu pos balasan ke Teh Lenny). Tak disangka, kartu posku sampai kurang dari sebulan di alamat Teh Lenny. Aku juga sudah menerima tiga kartu pos lainnya dari grup menulis muslim Indonesia di Amerika. Salah satu kartu pos bahkan digambar secara manual dengan cair air!
Baik aku maupun teman-teman di grup menulis itu sama-sama bahagia menerima kartu pos dari teman lainnya. Ada perasaan diperhatikan dan tidak merasa sendiri di negara yang asing. Kartu pos yang aku terima seperti rantai kebahagiaan dari satu orang ke orang lainnya. Kira-kira, bisakah kita perpanjang rantai kebahagiaan ini di grup Magata? :D
Ilma
Ibu rumah tangga yang kadang belajar hal baru, menulis, memasak, atau ngajar anak. Saat ini tinggal di Amerika Serikat.
Terbaru Lebih lama

Related Posts

Posting Komentar