Ilma Hidayati Purnomo

3 Lokasi Scrolling Favoritku

Posting Komentar
24 jam di rumah saja sebagai butler dari dua pangeran dan satu raja membuatku perlu mencari pelampiasan supaya tetap waras. Salah satu pelampiasan instan yang mudah diraih adalah scrolling di aplikasi ponsel pintar. Tapi! Aku harus pilih-pilih. Salah-salah "lokasi" scrolling malah bisa bikin makin tidak waras!

Kriteria "Lokasi" Scrolling

Setidaknya lokasi tempat aku menghabiskan waktu dengan menggeser-geser layar harus memiliki tiga hal berikut:
1. Konteks yang lengkap
2. Minim video
3. Tidak ada (atau tidak banyak) kontak orang dikenal

Kira-kira terbayang gak aplikasi macam apa yang aku maksud? Hehe

1. Reddit

Barangkali, aplikasi ini adalah Plaza Widya skala dunia. “Tempat bertanya dan harus ada jawabnya.” Tidak ada pertanyaan remeh di aplikasi ini. Semua orang bebas bertanya dan menjawab.
Tak jarang, aku pun mencari jawaban dari aplikasi ini. Meskipun belum pernah posting pertanyaan, nyatanya, hal-hal yang pernah bersliweran di kepalaku juga pernah ditanyakan oleh manusia lainnya dari entah belahan bumi bagian mana.

Kadang, aku tak punya pertanyaan. Cuma ingin baca apa yang ditanyakan orang lain. Jadi aku buka aplikasi ini dan scrolling di homepage-nya.

Tidak jauh berbeda dengan media sosial lainnya. Homepage Reddit juga menampilkan topik-topik yang kusukai, menurut algoritmanya. Bedanya, postingan di Reddit dipublikasikan oleh orang yang tidak aku kenal alias anonim (kriteria 3) dan konteksnya lengkap (kriteria 1).

Pertanyaan yang diajukan di Reddit kadang ditulis secara mendetail dan panjang supaya penjawab punya gambaran situasi yang dihadapi penanya. Kadang penanya juga menyingkat kisahnya dalam TLDR (too long don’t read).

Kadang, ada juga pertanyaan sesingkat “what is this?” disertai sebuah gambar. Menariknya, postingan seperti ini juga sudah punya konteks yang lengkap karena postingan ini di bawah sub-reddit (topik) apa, misalnya r/seattle (sub-reddit Seattle). Jadi, paling gak, orang lain tahu scoop lokasi terjadinya hal ini di sekitaran kota Seattle.

Akhir-akhir ini juga lagi ada media sosial yang booming jadi tempat orang “bertanya”, yaitu Threads. Masalahnya, konteks pertanyaanya sangat tidak jelas. Aku setuju dengan argumen batasan kata di Threads yang minim. Entah karena algoritmaku, pertanyaan di Threads cenderung memancing emosi, bukan “out of curiousity”.

Ambillah contoh kasus viral beberapa waktu lalu tentang laki-laki yang mengeluh sudah menunggu lama di IGD tapi belum mendapat penanganan. Dia pengguna BPJS. Nah, karena tidak jelas konteksnya apa, orang-orang malah berkomentar negatif. Coba kalau kondisinya dijelaskan lebih detai dalam bentuk Thread: sakit apa, apakah pasien rutin di RS tersebut, dan tindakan apa yang diperlukan. Mungkin orang-orang yang mau berkomentar bakal mikir dua kali untuk menggerakkan jempolnya.

Aku tidak menyalahkan almarhum yang membuat postingan Threads. Aku menyalahkan ekosistem Threads itu sendiri karena tidak sekali dua kali aku jumpai hal serupa. Bahkan aku sendiri pernah jadi korbannya.

Aku membayangkan kalau postingan serupa ada di Reddit. Di dalam r/bpjs ada orang memposting “Udah nunggu 8 jam di IGD belum ada tindakan”. Terus ada orang yang bales, “Di RS mana?”. Terus OP (orang yang punya postingan bales, “Di RS A Depok”. Ada lagi yang komentar, “Pelayanan di RS itu emang lamban. Kalau bisa pindah, coba ke RS B di Jaksel.” Atau ada lagi yang nambahin, “Ada keluarga yang nemenin di RS? Coba minta bantuan cari PPIP atau petugas BPJS Satu. Bisa coba telpon BPJS Care Center 165. Semoga kamu cepet dapet tindakan ya.”

Sebetulnya ada juga aplikasi mirip Reddit, yaitu Quora. Aku lebih suka Reddit karena layout-nya yang lebih rapi. Kalau buka satu pertanyaan, di scroll ke bawah hanya tampak komentar untuk pertanyaan tersebut. Beda dengan Quora yang dipenuhi link ke pertanyaan serupa bahkan jawaban dari pertanyaan serupa (bukan pertanyaan yang aku pingin baca jawabannya).

Nah, apakah di Reddit juga ada orang yang posting untuk show off? Ada! Anehnya, respon atau komentar orang-orang cenderung positif. Lagi-lagi, mungkin, karena konteksnya jelas. Misal, dia pamer transformasi wajahnya yang glow up di sub-reddit r/glowup. Orang-orang memuji betapa wajahnya jadi cantik/ganteng.
Coba kalau ada orang pamer transformasi wajah di Instagram. Misal temen sendiri yang lagi show off. Rasanya gimanaaa gitu pas liat foto atau videonya (iya, aku memang double standard πŸ™πŸ»)

Jelas, aku tidak cocok nongkrong di Instagram, karena terlalu banyak video (kriteria 2) dan konteksnya tidak lengkap (banyak video yang sepotong-sepotong). Reels 30 detik apa bisa memberikanku konteks yang lengkap? Tentu saja tidak!

Belum lagi kalau Reels 30 detik yang sepotong itu berisi sepotong pidato presiden Indonesia tercinta, berbagai info kerusuhan di tanah air, atau gosip artis. Pastinya bikin kegiatan scrolling bikin aku makin pusing. Niatnya cari hiburan malah nambahin pikiran πŸ˜…

2. Google Chrome


Ada kalanya aku buka aplikasi Google Chrome di ponsel pintar hanya untuk scrolling. Pasalnya, di bagian homepage memang ada deretan artikel yang disediakan sesuai dengan history pencarianku selama ini.

Karena sudah sesuai dengan algoritma, link artikel yang tersemat di sama banyak yang menarik perhatianku. Mulai dari peraturan apply Permanent Residency di US, sampai tanggal launching tote bag terbaru dari Trader Joe’s (grocery store chain yang terkenal di US karena sering meluncurkan limited stock tote bag).
Screenshot homepage Google Chrome

Meskipun kadang artikel keimigrasian US yang aku baca memiliki tendensi negatif, pikiranku tidak terbebani. Soalnya, artikel yang aku baca biasanya mencakup keseluruhan topik yang dijelaskan secara mendetail dan bersifat edukatif. Kalaupun ada hal yang masih mengganjal, aku bisa cari ulang di Google.

Beda dengan Reels 30 detik yang menakut-nakuti imigran US dengan topik yang sama. Bukannya jadi tercerahkan, justru membuat bingung dan menimbulkan banyak tanya. Apa benar peraturannya sekarang begini?

3. Aplikasi Grocery Store


Nah kalau yang ini sebetulnya sangat berbeda dengan kriteria di atas. Scrolling di aplikasi tempat belanja memang dilakukan untuk mencari kupon potongan harga dari bahan makanan yang biasa aku beli. Ada dua aplikasi grocery store yang aku amati secara khusus yaitu Safeway dan Fred Meyer karena kedua lokasi swalayan ini cuma 5 menitan naik mobil dari rumah.

Selain karena dekat, kedua swalayan ini juga punya jadwal drop kupon mingguan yang sama, setiap hari Rabu. Jadi, setiap Rabu pagi, aku akan scroll ratusan “deals” dan menyimpan kuponnya di akunku yang bisa aku pakai untuk belanja di minggu yang sama. Kupon diskonnya tidak main-main lho. Harga es krim kesukaanku yang biasanya $6 bisa tinggal $2.5 saja!
Kadang ada promo beli satu gratis satu

Kalau ada pembaca blog post ini yang sangaaat menyukai Threads dan Instagram, bagus aja kok. Penilaianku terhadap kedua aplikasi itu memang sangat subjektif dan bisa didebat. Tapi, sebagai former user Thread, tolong jangan jadi bagian dari ekosistem yang suka menulis komentar negatif di postingan orang lain, ya. Kita tidak tahu, hati siapa yang sedang dihancurkan dengan ketikan jempol ini :)

Itu aja pesannya, makasih Tantangan Mamah Gajah Ngeblog yang diperpanjang dua hari. Aku jadi bisa setoran buat bulan ini 😝



Ilma
Ibu rumah tangga yang kadang belajar hal baru, menulis, memasak, atau ngajar anak. Saat ini tinggal di Amerika Serikat.
Terbaru Lebih lama

Related Posts

Posting Komentar