Ilma Hidayati Purnomo

3 Kesalahan Tidak Bisa Setor Tantangan

Posting Komentar
Tanpa perlu bertele-tele dengan paragraf pembukaan, langsung saja aku beberkan dosa-dosaku (atau mungkin juga para pembaca 😝) 3 kesalahan penyebab tidak bisa setor tantangan menulis, terutama tantangan blogging Mamah Gajah Ngeblog.

1. Menunda-nunda

Berapa hari sih deadline tantangan menulis? 7 hari? 10 hari? 15 hari? Masih lama lah, ya. Begitulah pikirku kita semua. Teman-teman, izinkan saya mengingatkan Anda, bahwasannya: 
Waktu itu adalah ilusi.

Bayangkan, waktu 15 hari itu harusnya luama banget. Dari tanggal 5 sampai 20 Juli itu ada tiga kali hari Senin! Coba deh, kalau nunggu waktu 15 hari buat jemput mobil yang lagi inden. Pasti berasa lama, kan? Pingin cepet-cepet naik mobil bayuu.

Lah, tapi gilirannya 15 hari sebagai deadline tantangan menulis? Pas jatuh tempo aja bisa minta diperpanjang lagi. Alasannya, lagi keluar kota, ada kesibukan kerja, capek, atau gak kepikiran mau nulis apa.

Oke, aku paham kesibukan kita beda-beda. Ada yang beneran sibuk banget sampai waktu 360 jam bener-bener tidak bisa meluangkan waktu lima menit saja setiap harinya untuk mencicil tulisan di notes HP. Mungkin itu Pak Prabowo Subianto yang mau ikut tantangan menulis, kayaknya, ya?

Aku akui saja. Aku ini memang suka menunda-nuda. Alasannya, masih 15 hari lagi. Padahal, hari pertama aku capek habis nemenin anak ke taman. Hari kedua capek habis masak-masak buat tamu. Hari ke tiga capek, habis ... ya pokoknya capek aja lah gitu 😂

Jadi, Sobat, waktu 15 hari itu akan habis dengan cepat. Kalau memang berniat setor tulisan tantangan, sebaiknya langsung tulis saja, tidak perlu menunda-nunda. Kecuali ....


2. Memang Tidak Berniat

Ada kalanya aku memang bertekad dalam hati, "Pokoknya aku tidak mau setor tulisan tantangan kali ini!"

Alasannya bisa beragam. Mulai dari merasa tidak cocok dengan temanya. Lagi puasa dari media sosial (jadi memang skip sama info tantangan). Atau simply, tantangan menulis ini tidak penting (:

Aku tidak mau berburuk sangka, tapi memang ingin berburuk sangka, setelah aku merasakan sendiri pahitnya menjadi penyelenggara tantangan menulis tetapi nihil peserta! Dari pengamatanku, grup menulis yang pesertanya aktif mengikuti kegiatan grup hanya Mamah Gajah Ngeblog. Setidaknya, dari 40 member, ada 10 orang yang ikut tantangan. Tidak jarang sampai 20 orang.

Aku juga jadi admin di dua grup menulis lainnya yang masing-masing membernya ada 100+. Sayangnya, saat ada tantangan menulis, pesertanya paling banyak hanya 5. Setiap hari di pikiranku, "Gimana caranya supaya ada banyak orang yang ikut serta dalam tantangan menulis kali ini? Apa ditambah hadiahnya? Bentuk apresiasi apa yang cocok? Tema seperti apa yang mudah bagi semua orang?"

Setelah semua daya dan upaya yang telah kukerahkan, tetap saja tingkat partisipasi peserta masih rendah. Aku sadar, komunitas itu bersifat sukarela. Tidak ada yang dibayar untuk mengikuti kegiatan di dalamnya. Namun, apa tujuannya masih bergabung dengan komunitas tersebut kalau hanya scroll infonya saja?

Tenang, Sobat, aku juga tidak mau terus-menerus menjadi judgemental. Pasalnya, aku juga bergabung dalam dua komunitas menulis lainnya dan memang aku hanya scroll semua info dan chat di grup itu. Memang mengikuti kegiatan di kedua komunitas itu bukanlah prioritasku. Sayangnya, aku tidak bisa keluar dari grup-grup tersebut. Dulu, untuk bisa menjadi member, aku harus mengikuti tantangan menulis selama puluhan hari. Setelah usaha sebesar itu yang aku berikan, masa aku keluar grup begitu saja?


3. Tiba-tiba Perfeksionis

Ini yang paling bikin dilema. Pikiran aku udah siap banget buat setor tantangan menulis. Ada beberapa ide yang sudah dikumpulkan. Tapi, aku ingin jadi juara satu! Walahdalah. Ini yang susah. Gimana caranya membuat tulisan paling unik, paling enak dibaca, dan paling relatable?

Haruskah aku menyebarkan kuesioner dalam bentuk Google Form yang bertema "Momen Salah" yang paling umum dialami orang lain? Apakah salah pakai baju padahal ada dress code-nya? Apakah salah memasukkan garam ke dalam kopi? Nah, dari situ aku bisa menyimpulkan apa "Momen Salah" yang orang-orang gampang relate.

Atau, haruskah aku tidak sengaja salah masuk kamar mandi di sebuah pusat perbelanjaan dalam keadaan kebelet. Pas masuk, aku melihat sesosok manusia menggunakan rok, berambut panjang, menggunakan sepatu berhak tinggi tetapi menggunakan tempat pipis berdiri. Saat ada laki-laki gagah bertato keluar dari salah satu stall kamar mandi, barulah aku betulan sadar kalau aku masuk kamar mandi laki-laki. Mana baru aja lihat laki-laki jadi-jadian. Haruskah begini?

Mungkin aku harus semedi di depan laptop selama 3 hari 3 malam untuk menyusun kerangka karangan, mengembangkan kerangka karangan menjadi paragraf yang koheren, lalu menyunting supaya sesuai dengan kaidah EYD sehingga tulisanku menjadi enak dibaca. Setelah semua usaha yang dikeluarkan, ternyata tulisanku jadi biasa saja. Males mau setor. Sekalipun aku akhirnya setoran di detik-detik terakhir, setelah voting, ternyata tulisanku tidak masuk kategori apapun. Nyeseq.


Apa Alasanmu?

Pada akhirnya, aku juga akan membuat alasan-alasan yang membenarkan kesalahanku tidak bisa setor tantangan tulisan. Temanya susah. Too much information. Anakku lagi summer holiday, aku harus cari banyak kegiatan untuknya. Apakah alasan-alasan itu valid? Ya, tapi itu bukan alasan sebenarnya. Akar alasannya adalah tiga alasan di atas.

Sebagai penyelenggara tantangan menulis juga peserta, aku lumayan bisa memahami di kedua belah pihak. Sebagai admin yang terus menerus mengingatkan, "Hey, yuk setor tantangan" tapi grupnya krik-krik kan gak enak juga di hati. Tapi sebagai peserta, ada kalanya aku juga mengabaikan itu.

Padahal, baik sebagai peserta maupun penyelenggara, kalau ada beberapa orang yang semangat meramaikan tantangan di grup menulis, aku juga jadi ikutan bersemangat. Partisipasi aktif itu menular. Kepasifan juga menular. (Kalau gak ada respon apa-apa di grup, ngapain juga aku tiba-tiba ngomong ya, kan?)

Kita gak butuh alasan untuk bisa setor tantangan. Kita cuma butuh aksi. Mau gak meluangkan waktu 5 menit dari 24 jam sehari untuk mencicil tulisan? Atau meluangkan waktu sekali duduk sekitar 1 jam untuk menghasilkan tulisan 800 kata? 

Jadi, di antara kesalahan di atas, mana yang menjadi alasan utamamu tidak bisa setor tantangan? Kalau kesalahanku, membeberkan dosa-dosa ini di blog. Jangan-jangan jadi ada yang kesel gara-gara aku singgung 😅

Di postingan yang membahas semua momen salah ini, saya minta maaf atas kesalahan saya. Juga tolong, jangan biarkan admin tantangan menjadi sedih karena ajakannya diabaikan. Besok-besok, setor tantangan lebih awal!


Cerita Tambahan

Waktu aku udah submit cerita ini, anak sulungku membaca cerita ini. Dia tanya, "Hadiahnya apa buat yang menang?" Aku tunjukkan badge yang pernah aku dapatkan. 

Pertama, aku tunjukkan badge Artikel Terenak Dibaca. Dia tampak takjub. Terus dia nanya, "Ada yang lebih bagus?"
Aku tunjukin badge Surprise Reward. Dia bilang, "Wow! Ada yang lebih bagus lagi?"
Final boss, aku kasih lihat badge Juara Favorit 10 Besar. Dia terpukau. Matanya berbinar-binar. Wow-nya lebih excited lagi.

Ternyata, badge Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog  memang se-worth it itu untuk didapatkan! 🤩🤩

Ilma
Ibu rumah tangga yang kadang belajar hal baru, menulis, memasak, atau ngajar anak. Saat ini tinggal di Amerika Serikat.
Terbaru Lebih lama

Related Posts

Posting Komentar