Yang lebih bikin pingin marahnya lagi, karhutla ini erat kaitannya dengan makanan kita. Hutan dibabat untuk dijadikan ladang, hasil ladangnya kita makan. Semakin banyak permintaan bahan makanan, semakin banyak pula hutan dibabat. Betulkah tidak ada cara lain untuk memenuhi kebutuhan pangan tanpa membabat hutan?
Gambut Bukan Lahan Kosong
Tidak ada penghuninya bukan berarti lahan tidak produktif. Gambut memang tampak seperti "hanya" semak-semak, padahal gambut adalah ekosistem kompleks. Ketika gambut dirusak, kita bisa lihat sendiri bencananya.
Aku pribadi belum pernah lihat gambut secara langsung. Nah, di online gathering Eco Blogger Squad bertajuk "Dari Gambut ke Meja Makan: Menelusuri Kaitan Karhutla, Biodiversitas dan Pangan," aku jadi punya gambaran soal gambut.
Mas Yoga, Communication Lead dari Pantau Gambut, membuat analogi begini: bayangkan di depan rumah kita ada pohon besar. Setiap hari daun-daunnya gugur, ranting-rantingnya jatuh, dan sisa-sisa tumbuhan perlahan menumpuk. Kita pasti rutin sapu supaya bersih.
Nah, di hutan, daun dan ranting dari pohon terus berguguran selama ribuan tahun (dan tidak pernah disapu, yaiyalah 😂). Tumpukan daun dan ranting itu terendam air jadi tidak terdekomposisi (membusuk) secara sempurna. Kalau mau lihat perbedaan tanah gambut dan tanah mineral (yang biasa kita jumpai), bisa lihat di situs Pantau Gambut: https://pantaugambut.id/pelajari/karakteristik
Ketika lahan gambut (yang "mereka" anggap sebagai lahan kosong alias tidak produktif) dibuka menjadi lahan pertanian skala besar, air yang merendam bahan organik dikeringkan dengan membentuk kanal-kanal untuk mengalirkan air keluar. Tanaman di atasnya ditebang dan dibersihkan.
Karakteristik gambut menjadi berubah. Awalnya bisa menahan air, sekarang jadi kering. Masalahnya, gambut ini kayak lapisan-lapisan bahan organik kering. Kalau yang di atas kena api, langsung menjalar cepat ke bagian lapisan dalam. Sekalipun api bagian atas sudah dipadamkan, bara api di lapisan terdalam masih hidup. Api menjadi susah dikendalikan. Itu sebabnya kebakaran lahan gambut lebih susah dipadamkan.
Bencana Akibat Kerusakan Gambut
Dalam proses mengubah lahan gambut untuk menjadi lahan pertanian, ada yang menggunakan metode pembakaran lahan untuk mengeringkannya, seperti yang pernah aku tulis di blogpost "Ketika Hutan Dilalap Api".
Daun dan ranting kering yang kita kumpulkan di depan rumah aja mudah sekali terbakar kalau kita kasih api kecil. Lah, lahan gambut ini kan daun dan ranting kering yang jatuh dari pohon selama RIBUAN tahun. Kebayang sebanyak apa?
Udah gitu, SENGAJA dibakar. Kebayang apinya segede apa? Ditambah lagi, tahun ini ada El Niño yang membuat kondisi udara semakin panas dan kering. Seperti yang teman-teman lihat sendiri, hutan yang terbakar semakin luas dan asapnya menyebar secara liar.
Kerusakah gambut ini tidak hanya menjadi bencana di musim kemarau seperti sekarang. Di musim penghujan, lahan gambut harusnya bisa menahan air. Sifatnya seperti spons, menyerap dan menyimpan air. Kalau sudah dikeringkan, gambut kehilangan kemampuannya. Akibatnya, air hujan hanya lewat begitu saja sehingga bisa menyebabkan banjir.
Selain banjir, ada bencana ekologis lainnya yang disebabkan oleh gambut yang dikeringkan. Lahan gambut mengandung lapisan mineral pirit. Dalam keadaan terendam air, lapisan mineral ini tidak akan menimbulkan bahaya apapun.
Ketika lahan gambut dikeringkan, lapisan mineral pirit terekspos dengan udara dan bereaksi dengan oksigen. Pirit yang teroksidasi menghasilkan asam sulfat dan asam sulfida. Kalau hujan, asam ini juga terbasuh dan terbawa ke sungai. Asam ini mencemari dan merusak ekosistem sungai.
Kalau mengubah lahan gambut menjadi lahan perkebunan bisa menyebabkan bencana sedemikian besar, lantas bisakah kita memenuhi kebutuhan pangan tanpa mengubah lahan gambut? Jawabannya, BISA!
Sagu: Panganan Pokok Masa Lalu
Kalau ditanya, udah makan belum? Terus ingat, tadi siang baru makan singkong keju, misalnya. Umumnya orang bakal menjawab, "Belum makan nasi."
Pernahkah terpikir, kenapa makan besar kita harus nasi? Apakah nasi itu satu-satunya sumber karbohidrat kita? Ternyata tidak, ya. Bahkan, tanaman beras itu bukan tanaman asli Indonesia, lho. Terus, kenapa pola pikir kita sekarang "kalau belum makan nasi, berarti belum makan"?
Setelah menyimak pemaparan Mas Ahmad Arif, salah satu pendiri nusantara Food Biodiversity, jurnalis, dan penulis buku, aku jadi tahu kalau pilihan makanan kita saat ini ternyata dipengaruhi oleh pilihan politik pemerintah di masa lalu. Untuk kita yang harus makan nasi baru merasa kenyang, kita adalah produk kebijakan Penyeragaman Pangan ke Padi "Berasisasi" yaitu pemaksaan untuk menanam dan mengonsumsi padi (beras) guna menggantikan pangan lokal lainnya. Hal ini dilakukan oleh Pemerintah Orde Baru sekitar tahun 1960-an hingga 1980-an.
Salah satu makanan yang tergusur oleh kebijakan itu adalah sagu. Padahal, sagu adalah salah satu makanan tertua di Indonesia dan merupakan tanaman endemik. Sagu itu bukan hanya ada di Papua, ya. Sagu ada di hampir seluruh Pulau Sumatra. Sampai sekarang, salah satu produsen sagu terbesar sebenarnya di daerah Kepulauan Riau.
Di daerah Palembang, Jambi, Riau dan banyak daerah lainnya yang sekarang hutannya terbakar itu sebetulnya habitat sagu. Masyarakatnya di masa lalu juga mengkonsumsi sagu. Jawa bagian utara juga dulunya habitat sagu sebelum kemudian dikonversi menjadi pertanian padi. Makanya, di Bahasa Jawa, nasi itu sego. Sedangkan di Bahasa Sunda, nasi itu sangu. Pasalnya, memang karbohidrat tertua yang diketahui oleh orang Indonesia itu adalah sagu.
Sagu yang dimaksud di sini bukan hanya tanaman sagu, tetapi juga teknik mengekstraksi empulur, inti dari tanaman palmai (kelapa-kelapaan). Salah satunya adalah metroxylon sagu yang kita temui di di Papua. Bisa tebak di mana tanaman ini tumbuh? Yap, sagu ini adalah tanaman endemik yang bisa tumbuh dengan baik di area gambut tanpa gambutnya harus dikeringkan.
Panganan Lokal yang Beragam
Inilah jawaban untuk pertanyaan di awal artikel ini. Ada, kok, cara lain untuk memenuhi kebutuhan pangan tanpa membabat hutan, yaitu dengan diversifikasi pangan. Singkatnya: makan makanan yang lokal dan beragam.
Makan panganan yang lokal dan beragam bukan cuma memberi manfaat bagi ekosistem, tetapi juga memenuhi kebutuhan nutrisi harian. Saat ini, dengan keseragaman pangan yang fokusnya "memenuhi kebutuhan pangan", ternyata Indonesia dihadapkan dengan Triple Burden Malnutrition.
Yang miskin cuma sanggup makan nasi tanpa daging, berakhir anemia. Yang menengah cuma sanggup makan tepung-tepungan (gorengan, kerupuk, roti-rotian), berakhir obesitas karena kebanyakan karbohidrat.
Aku menyimpulkan bahwa usaha pemerintah untuk mencukupi kebutuhan pangan masyarakatnya dengan jalan yang kurang efektif. Pemerintah masih impor gandum, daging, dan kedelai secara besar-besaran. Belum lagi ditambah kebijakan food estate yang tidak jelas arah pembangunannya dan dampaknya terhadap ekosistem. Ketimbang susah-susah membuat kebijakan baru, mengapa tidak mencoba eksplorasi bahan pangan lokal yang sudah pernah tumbuh di tempat itu sejak ribuan tahun lalu? Pasalnya, negara kita kaya dengan umbi-umbian.
Makanya, "Yang Dibakar Umbinya, Bukan Hutannya!"
Mengenal Sunchoke
Berhubung aku tinggal di Amerika Serikat bagian utara yang bersebelahan dengan Samudra Pasifik, aku berusaha mencari umbi-umbian lokal. Aku coba datang ke koperasi yang biasa menjual bahan panganan dari petani lokal. Sayangnya, tidak kutemukan bahan panganan lokal yang unik padahal aku pingin coba. Hiks.
Berhubung aku datang ke toko berjalan kaki sejauh 2,5 km di tengah panas terik, aku beralih ke deretan rak minuman. Tak kusangka, aku menemukan minuman kesehatan berbahan jerusalem artichoke. Namanya memang agak gak enak disebut, ya. Kita sebut saja pakai nama lainnya, yaitu sunchoke.
Di atas permukaan, tanaman ini tampak seperti kerabat bunga matahari. Batangnya dapat tumbuh tinggi, daunnya lebar, dan bunganya berwarna kuning cerah. Kita mungkin akan mengira kalau ini hanyalah tanaman hias padahal di bawah tanah, tersembunyi umbi-umbi yang bisa menjadi bahan pangan.
Sunchoke memiliki nama ilmiah Helianthus tuberosus. Tanaman ini masih satu genus dengan bunga matahari, tetapi bukan jenis artichoke yang biasa kita kenal sebagai sayuran. Nama “Jerusalem” pun bukan berarti tanaman ini berasal dari kota Jerusalem. Asal-usul namanya belum sepenuhnya pasti, tetapi salah satu penjelasan menghubungkannya dengan kata Italia girasole, yang berarti menghadap matahari.
Di Amerika Utara, umbi tanaman ini telah lama dimanfaatkan sebagai pangan oleh sejumlah masyarakat adat. Umbinya dapat dimakan mentah atau dimasak. Umbinya memiliki rasa sedikit manis dan menyerupai kacang, dengan tekstur yang bisa dimanfaatkan dalam beragam hidangan. Umbi ini dapat dipanggang, direbus, dihaluskan, atau ditambahkan ke dalam sup.
Nah, sunchoke menyimpan karbohidrat dalam umbinya, terutama inulin, sejenis serat yang termasuk kelompok fructan. Tubuh kita tidak mencerna inulin sepenuhnya di usus halus. Serat ini dapat mencapai usus besar dan difermentasi oleh mikroorganisme tertentu di sana. Karena itu, inulin dapat berfungsi sebagai prebiotik, yakni bahan yang dimanfaatkan mikroorganisme usus dan dapat memberi manfaat bagi kesehatan.
Di minuman kesehatan yang aku beli, ternyata serat sunchoke dipadukan dengan bakteri probiotik yang membantu kesehatan organ pencernaan. Meskipun aku belum pernah coba umbi sunchoke, setidaknya aku pernah coba minum ekstrak seratnya :D
Pesan untuk Kita
Yuk, kita eksplorasi lagi bahan panganan yang ada di sekitar kita! Kalaupun kita belum bisa menghentikan pengubahan lahan gambut menjadi perkebunan, sebagai konsumen, kita punya daya untuk mengarahkan pasar. Kurangi pembelian bahan pangan yang berpotensi menjadi alasan gambut dikeringkan dan menjadi perkebunan skala besar. Mulai dari rumah, kita bisa memenuhi kebutuhan pangan dari umbi-umbian di sekitar kita.
Jangan lagi mau makanan kita diseragamkan. Karena diversifikasi pangan (keberagaman pangan), kita berarti sedang menjaga biodiversitas (keberagaman hayati). Itu berarti, kita juga sedang menjaga ekosistem untuk tetap seimbang, tanpa eksploitasi besar-besaran :)
Ingat, "Yang dibakar umbinya, bukan hutannya!"




Posting Komentar
Posting Komentar