Ilma Hidayati Purnomo

Oleh-oleh Covid

Posting Komentar

Sebagai Mamah Host yang tidak patut dicontoh, aku baru mulai buat tulisan di 27 menit terakhir sebelum deadline. Alasannya, masih sibuk ngurus permanent residency (padahal emang menunda sekian pekerjaan aja). Aku malah kesenengen bacain tulisan lainnya yang disetor Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog ðŸ¤­

Akhir 2019 lalu, dunia digemparkan dengan berita penyakit pernapasan menular. Mulanya, penyakit itu dideteksi di China. Dalam waktu 4 bulan saja, penyakit itu menyebar ke berbagai negara. Lebih mencekamnya lagi, sebagian besar negara memutuskan melakukan lock down alias merumahkan seluruh warganya. 

Di bayanganku waktu itu, situasi kehidupan kami mendadak kayak di film zombie. Ditambah lagi, aku dan anak pertamaku baru saja sampai di Amerika Serikat menyusul suami.

Situasi kami jadi lebih rumit setelah aku dinyatakan hamil pada Februari 2020. Anak pertamaku baru berusia 1,5 tahun dan masih menyusu. Aku bahkan menggunakan alat kontrasepsi spiral. Aku kira, kecil kemungkinan bisa hamil lagi. Ehh tenyata 😅

Saat itu aku baru sempat kontrol ke dokter kandungan sebanyak 2 kali. Lalu lockdown diberlakukan di Amerika Serikat. Aku tidak bisa keluar rumah dan tidak berani pergi ke klinik. Pasalnya, aku sendiri dalam keadaan rentan terkena penyakit. 

Tidak bisa kontrol kandungan, bertahan dengan makanan yang ada di kulkas selama 2 minggu, harus mengantri panjang kalau mau ke grocery store, hingga harus men-desinfektan diri setiap kali habis keluar rumah. Tiba-tiba kami jadi punya banyak kebiasaan baru. Banyak juga peraturan baru yang mau gak mau membuat kita harus beradaptasi.

Nah berikut ini beberapa kebiasaan baru yang kita dapatkan secara masal setelah masa pandemi:


1. Waspada kuman

Siapa yang sampai hari ini masih mengantongi hand sanitizer di tasnya? Atau masih bawa masker ke mana-mana? 

Sebelum masa pandemi, kebiasaan ini mungkin sudah dilakukan sejumlah orang. Tetapi sejak pandemi, kebiasaan ini mulai dilakukan secara masal. Sampai-sampai, stok hand sanitizer dan masker di toko pun ludes. 

Tahun 2020, kami bahkan sangat takut menyentuh barang yang sudah disentuh orang lain contohnya knop pintu apartemen hingga paket dari Amazon. Kami harus pakai kertas atau sarung tangan untuk melindungi tangan dari bersentuhan langsung dengan barang itu. 


2. Work from home

Sebelum pandemi, istilah ini jarang sekali terdengar. Sebetulnya sudah banyak pekerjaan yang bisa dilakukan secara jarak jauh seperti riset yang dilakukan suami (modalnya cuma komputer dan internet). Nah, sejak pandemi, istilah WFH jadi populer karena sebagian besar orang jadi benar-benar bekerja dari rumah. 

Jangankan bekerja, sekolah pun dilakukan dari rumah. Anak-anak duduk di depan laptop masing-masing dan menyimak penjelasan guru lewat Zoom meeting. 


3. Menambah hobi

Terus menerus di rumah ternyata membuat sebagian besar orang mulai bosan. Akhirnya, banyak orang mulai iseng memikirkan hobi. Waktu pandemi dulu, selain hand sanitizer dan masker, bahan-bahan baking juga sempat mengalami kelangkaan, lho! 

Dari pengamatanku di media sosial, orang-orang mulai berniat belajar hal baru. Semakin banyak juga video tutorial di Youtube.

Selain hobi baru, saat pandemi juga mulai menjamur komunitas online. Mungkin dulu kita juga mulai haus akan interaksi dengan sesama. Gak bisa ketemu orang lain secara fisik, akhirnya orang-orang memilih membuat komunitas daring, termasuk aku yang mulai aktif ngeblog dan gabung komunitas blogger. 


4. Perubahan dinamika keluarga

Berada di rumah setiap detiknya selama beberapa minggu bersama pasangan dan anak ternyata bisa menghasilkan outcome yang sangat berbeda. Ada pasangan yang justru semakin sering ribut dan berujung berpisah. Ada pasangan yang semakin mesra sampai menambah anak.

Kejadian pandemi Covid 19 lalu banyak menyebabkan perubahan dalam tatanan hidup kita. Dari segi ekonomi, banyak PHK dan sektor wiraswasta yang terganggu oleh kebijakan lockdown. Dari segi sosial, kita semakin sering interaksi tanpa tatap muka langsung. Dari segi kesehatan, kita jadi lebih aware dengan kebersihan dan kesehatan diri.

Covid 19 memang sudah berakhir karena kita sudah berhasil menangani penyebarannya dan membuat vaksinnya. Namun, ada hal-hal yang telanjur berubah karena Covid 19, entah perubahan baik atau buruk.

Bagiku, "oleh-oleh" yang ditinggalkan Covid 19 adalah blog pribadiku, komunitas ngeblog yang masih aktif sampai saat ini, hingga kesempatan membesarkan anak kedua bersama suami yang selalu WFH sejak sang anak lahir hingga ia berusia 4 tahun. Tentu saja, ini "oleh-oleh" yang baik.

Boleh dong share di sini "oleh-oleh" Covid 19 yang Mamah dapatkan! :)

Ilma
Ibu rumah tangga yang kadang belajar hal baru, menulis, memasak, atau ngajar anak. Saat ini tinggal di Amerika Serikat.

Related Posts

Posting Komentar