Tidak Ada yang Tidak Berguna
Mangrove Bagi Warga Sekitarnya
Selama ini, ketika mendengar kata mangrove, langsung terbayang hutan di pesisir yang melindungi pantai dari abrasi, dengan akar-akar yang mencuat di antara air laut dan lumpur. Aku hanya tahu sebatas mangrove sebagai ekosistem tempat ikan, kepiting, kerang, dan berbagai biota lainnya tumbuh dan mencari perlindungan. Ternyata, mangrove punya peran lebih dari itu.Setelah mengikuti webinar "Inspirasi Ketahanan Pangan dari Mangrove di Raja Ampat" yang diselenggarakan oleh Eco Blogger Squad (EBS) bersama The Asia Foundation (TAF), aku merasa tercerahkan. Bagi masyarakat pesisir, mangrove bukan hanya tentang hutan yang harus dilindungi. Keberadaannya juga berkaitan erat dengan makanan yang tersedia di sekitar mereka dan penghidupan keluarga yang bergantung pada alam.
Cerita dari Kampung Friwen, Raja Ampat, Papua Barat Daya, membuatku paham konteks ini. Dalam materi yang dibawakan Wawiyai Steve (pendiri sekaligus penggerak Perkumpulan Kawan Pesisir Raja Ampat (PKPRA)), aku menangkap satu hal penting: ketika hutan mangrove mengalami kerusakan, yang terdampak bukan hanya pohon-pohonnya. Kehidupan masyarakat yang bergantung pada ekosistem pesisir juga ikut terancam.
Pada 2019, kondisi mangrove di Doredor menunjukkan betapa rentannya sumber daya yang menopang kehidupan masyarakat. Sekitar 133 hektare, atau 57 persen dari kawasan mangrove seluas 233 hektare, mengalami kerusakan akibat pengambilan kayu untuk kebutuhan pembangunan wisata. Padahal, kawasan ini merupakan wilayah adat yang penting bagi masyarakat Friwen sekaligus area pemijahan ikan di Selat Dampier. Ketika habitat mangrove terganggu, yang dipertaruhkan bukan hanya keberadaan hutan, tetapi juga ekosistem pesisir yang menopang sumber pangan dan penghidupan masyarakat.
Dari Menjaga Mangrove hingga Menjaga Pangan
Mengapa kerusakan mangrove bisa berpengaruh pada pangan? Salah satu jawabannya ada pada fungsi ekologis hutan mangrove itu sendiri. Akar mangrove menyediakan tempat berlindung dan tumbuh bagi berbagai biota pesisir, termasuk ikan dan krustasea. Serasah daun yang terurai juga menjadi bagian dari rantai makanan di perairan. Dengan kata lain, ekosistem mangrove yang sehat ikut menopang keberadaan sumber pangan dari laut.Ketika habitat tersebut rusak, ruang hidup berbagai biota dapat terganggu. Dampaknya tidak berhenti di dalam hutan, tetapi bisa menjalar ke kehidupan masyarakat yang mengandalkan hasil pesisir untuk kebutuhan pangan dan penghasilan.
Menariknya, hubungan mangrove dan pangan di Raja Ampat tidak hanya berkaitan dengan ikan, kepiting, atau kerang. Buah dari jenis mangrove tertentu juga dapat diolah menjadi bahan makanan.
Dalam webinar, salah satu contoh yang dibahas adalah buah Bruguiera gymnorrhiza, yang dikenal secara lokal sebagai salah satu sumber pangan mangrove. Buah ini dapat diolah menjadi tepung, kemudian dimanfaatkan untuk membuat berbagai produk seperti kue, camilan, atau keripik. Buah mangrove juga bisa diolah menjadi minuman tradisional dan produk turunan lainnya.
![]() |
| Sumber: Presentasi Webinar Eco Blogger Squad 25 September 2026 |
Perempuan yang Menjaga Mangrove
Satu hal lain yang membuat cerita Kampung Friwen terasa penting adalah peran perempuan di dalamnya. Steve menyampaikan, perempuan bukan hanya digambarkan sebagai penerima manfaat dari keberadaan hutan. Mereka juga terlibat dalam berbagai kegiatan yang mendukung pengelolaan lingkungan dan pengembangan usaha berbasis sumber daya lokal.Inisiatif pengolahan produk mangrove tumbuh dari upaya masyarakat untuk mencari cara pemanfaatan yang tidak bergantung pada penebangan pohon. Melalui kelompok usaha dan pendampingan, buah mangrove mulai dikembangkan menjadi produk pangan yang memiliki nilai tambah.
Salah satu kelompok itu adalah KUPS Sinya Lep di Kampung Friwen. Kelompok ini mendapatkan pelatihan untuk mengolah buah mangrove atau aibon menjadi tepung dan makanan ringan. Sekitar 35 perempuan terlibat dalam usaha rumahan.
Inilah bagian penting dari cerita ketahanan pangan. Pangan lokal bukan hanya tentang tersedianya bahan makanan, tetapi juga tentang siapa yang memiliki pengetahuan untuk mengolahnya, siapa yang terlibat dalam proses produksi, dan bagaimana manfaat ekonominya dapat dirasakan masyarakat. Ketika bahan pangan lokal dikembangkan menjadi produk bernilai tambah, peluang penghidupan bisa terbuka. Namun, peluang itu perlu berjalan seiring dengan perlindungan ekosistem yang menjadi sumber bahannya.
Pengelolaan mangrove di Friwen tidak hanya berbicara tentang mengambil hasil hutan. Masyarakat juga melakukan upaya pemulihan kawasan yang rusak, menanam dan merawat mangrove, serta membangun tata kelola yang melibatkan komunitas.
Steve turut menjelaskan pengelolaan melalui skema Hutan Desa, dengan pembagian zona perlindungan, pemanfaatan, dan konservasi. Pengaturan semacam ini membantu masyarakat menentukan area yang perlu dijaga dan area yang dapat dimanfaatkan secara terbatas.
Pengetahuan serta aturan adat, termasuk praktik sasi untuk membatasi pengambilan sumber daya pada waktu atau kawasan tertentu, juga dapat berperan dalam menjaga ketersediaan sumber pangan. Intinya, pemanfaatan sumber daya tidak dilakukan tanpa batas, melainkan dengan mempertimbangkan keberlanjutan ekosistem dan kebutuhan masyarakat.
Dari cerita Kampung Friwen, aku belajar bahwa menjaga mangrove bukan berarti menutup seluruh peluang pemanfaatannya. Justru, masyarakat dapat mengembangkan pemanfaatan yang lebih berkelanjutan, selama fungsi utama ekosistem tetap terlindungi. Dan ketika perempuan serta kelompok masyarakat dilibatkan dalam proses tersebut, perlindungan lingkungan juga dapat berjalan beriringan dengan penguatan ekonomi lokal.
Dia yang Hidup di Lantai Hutan
Salal adalah semak evergreen (yang daunnya selalu berwarna hijau sekalipun di musim dingin) yang berasal dari Pacific Northwest. Ia dapat ditemukan dari British Columbia dan Alaska bagian tenggara hingga Washington State (tempatku tinggal), Oregon, dan California bagian utara.
Ia tumbuh rendah di bawah pohon-pohon besar. Daunnya hijau tua, mengilap, dan cukup tebal. Kadang tumbuh hanya sebagai semak kecil, tetapi di tempat lain ia membentuk hamparan yang begitu rapat sampai hampir menutupi seluruh lantai hutan.
Berada di bawah kanopi pohon-pohon tinggi seperti Douglas-fir, western hemlock, Sitka spruce, dan western redcedar, Salal nyatanya bisa tumbuh subur meskipun tidak langsung terkena sinar matahari. Ia juga menyebar melalui rimpang dan bisa membentuk hamparan yang sangat rapat. Di antara semak yang rapat inilah habitat bagi sejumlah biota.
Vegetasi Salal yang rapat menyediakan tempat untuk berlindung, bersembunyi, dan bergerak tanpa terlalu terekspos untuk mengindari predator. Daun dan tunas salal dimakan oleh herbivora seperti black-tailed deer dan elk. Tidak seperti tanaman lain yang merontokkan daunnya sebelum musim dingin, dedaunan Salal tetap hijau sepanjang tahun sehingga menjadi sumber makanan herbivora tanpa kenal musim.
Sepanjang tahun, Salal terus memiliki peran penting bagi hewan di sekitarnya. Ketika salal berbunga, bunga kecilnya yang berbentuk seperti lonceng menghasilkan nektar yang menjadi makanan berbagai penyerbuk, termasuk lebah. Kemudian bunga-bunga tersebut berkembang menjadi buah. Ketika matang, buah salal berubah menjadi ungu tua hingga hampir hitam. Buah inilah yang kemudian menjadi makanan bagi berbagai satwa, mulai dari burung hingga mamalia, bahkan manusia.
Salal: Bagian dari Sejarah Manusia
![]() |
| Sumber: dibuat oleh AI dari chatgpt |
Buahnya kecil dan berwarna gelap ketika matang. Rasanya manis, meskipun tidak memiliki rasa tajam seperti beberapa buah liar lainnya. Berbagai Indigenous peoples di Pacific Northwest (daerah barat laut Amerika dan Kanada yang berbatasan dengan Samudra Pasifik) telah lama memanfaatkan Salal sebagai pangan. Buahnya dapat dimakan segar, dikeringkan, dimasak, atau diolah menjadi bentuk yang lebih awet untuk disimpan.
Secara tradisional, buah salal juga dapat dihancurkan dan dikeringkan menjadi semacam kue atau roti. Dalam catatan sejarah tentang perjalanan Lewis dan Clark di Pacific Northwest, ketika mereka berada di sekitar Oregon Coast pada 1806, mereka mengamati bahwa elk memakan daunnya dan bahwa masyarakat native mengeringkan buah salal menjadi cakes atau loaves.
Sekarang, Salal memang tidak dijual di supermarket, tetapi siapapun yang mengenalinya di hutan bisa mengambilnya. Aku pernah mencobanya. Rasanya tidak sekuat blueberry atau blackberry seperti yang aku ambil saat hiking. Tapi aku rasa, Salal cocok dijadikan selai.
Membuat selai Salal cukup mudah. Kita cukup memasak Salal dengan air hingga terbentuk jus Salal. Jus ini disaring. Untuk 1 cangkir jus Salal, kita perlu menambahkan 1 cangkir gula pasir, dan 1 sendok teh perasan lemon. Masak kembali hingga mengental seperti selai.
Jaga Hutan = Jaga Sumber Pangan
Dalam momentum Bangkok Climate Action Week 2026, cerita-cerita seperti ini mengajak kita melihat bahwa aksi iklim tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar atau jauh dari kehidupan sehari-hari. Banyak solusi berangkat dari pengetahuan lokal dan tindakan masyarakat yang merawat sumber daya di sekitarnya.
Lalu, bagaimana dengan lingkungan tempat kita tinggal?
Adakah tanaman yang selama ini kita kenal hanya sebagai peneduh, pelindung tanah, atau penghias halaman, tetapi ternyata juga memiliki hubungan dengan pangan? Adakah resep keluarga atau cerita dari orang tua yang menyimpan pengetahuan tentang tanaman lokal yang mulai jarang kita temui?
Kalau kamu punya cerita tentang tanaman di daerahmu yang bermanfaat bagi lingkungan sekaligus dapat dimanfaatkan sebagai pangan, yuk, ceritakan juga. Bisa jadi, pengetahuan sederhana yang hidup di sekitar kita justru menyimpan pelajaran penting tentang bagaimana menjaga alam sekaligus memenuhi kebutuhan hidup.




Posting Komentar
Posting Komentar