Gimana kalau aku jadi berdosa karena membuka aib di tulisanku?
Aku akui, akhir-akhir ini aku lebih sering menulis curhatan di blog. Niatku, kejadian yang aku tulis itu jadi pengingat untuk diri sendiri atau semoga orang lain yang baca juga bisa mendapat manfaat di baliknya. Masalahnya, gimana batasnya suatu hal itu termasuk "aib" atau bukan?
Terganggu Soal "Aib"
Ada beberapa hal yang membuatku takut sekali menjadi orang yang suka mengumbar aib:
1. Istri bagaikan pakaian suami, berlaku sebaliknya
Di agama yang aku anut, ini adalah paham yang ditanamkan bagi pasangan suami istri. Pakaian memberi kehangatan, kenyamanan, dan menutupi bagian yang harus ditutupi. Pasangan suami istri diharapkan menjadi pribadi seperti itu bagi pasangannya. Berarti, aku punya kewajiban "menutupi bagian yang harus ditutupi" dari suami.
Masalahnya, terdapat perbedaan pandangan antara apa yang boleh aku bagikan di ranah publik menurutku dibandingkan dengan suami. Secara garis besar, aku itu orangnya polos. Aku ceritakan apa adanya tanpa mengurangi atau menambahkan. Bagiku, white lies tetap saja bohong, jadi aku menghindari itu. Suami tidak setuju soal ini.
Jalan tengahnya, aku jadi seorang pengamat, pencatat, dan pengingat handal. Kalau suami pernah bilang "jangan bilang soal ini ke siapapun", aku nurut. Sisanya, aku berdoa aja semoga apa yang aku share dan diliat orang bukan termasuk aib buat suami.
2. Takut merugikan diri sendiri
Apa dampak paling parah dari menyebarkan aib? Tentu diri sendiri yang merugi. Merasa malu. Kena sanksi sosial. Diremehkan orang lain. Belum lagi kena dosa (karena menyebarkan aib juga termasuk perbuatan tercela).
Padahal, aku bukanlah orang yang kehidupan sosialnya bagus. Aku tidak pandai merawat hubungan pertemanan. Juga, memulai pertemanan bukan keahlianku. Setidaknya, kalaupun aku tidak punya kawan, jangan sampai aku punya lawan (atau orang yang menjadikanku bahan lawakan karena aib yang aku sebarkan sendiri).
3. Hanya ingin jadi bermanfaat
Sayang sekali rasanya kalau tinggal sebentar di dunia yang fana ini hanya untuk menjadi orang yang merugi. Aku harus jadi orang bermanfaat! Aku ingin fokus pada hal-hal positif dengan sebaik mungkin menjadikan platformku sebagai jalan berbagi hal-hal yang bermanfaat untuk orang lain.
Pengingat soal "jangan menyebarkan aib" telah sukses menjadikan rem supaya aku lebih berhati-hati dalam menulis di blog. Pilih dan pilah apa yang boleh aku sebarkan di ranah publik untuk memaksimalkan manfaat dari blogku.
Pedoman Tulisan Layak Publish
Beberapa waktu lalu aku cukup intens mencari definisi apa itu aib yang harus aku hindari, oversharing, membaca ulang materi blogging, sampai bertanya pada orang-orang yang sudah punya jam terbang blogging yang tidak main-main, seperti Mbak Vicky dan Teh Alfi. Akhirnya, aku punya rumusan kriteria tulisan blog yang layak terbit.
1. Kriteria umum
Berikut ini kriteria tulisan yang aku yakini semua blogger sudah menerapkannya.
- Tidak boleh plagiat
- Tidak ditulis full oleh AI
- Tidak mengandung ujaran kebencian terhadap ras, agama, suku, dan antargolongan (organisasi)
- Tidak mengandung hal vulgar
- Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar
- Menggunakan bahasa yang sopan
- Tidak membagikan isi dapur rumah tangga (keuangan, konflik, apalagi tentang "hubungan suami-istri")
2. Kriteria khusus
Kriteria di bawah ini mungkin hanya berlaku untukku, tapi layak untuk dipertimbangkan oleh siapapun yang suka menulis di blog.
- Tidak memublikasikan hal yang sudah jelas tidak disukai oleh suami
- Tidak menceritakan soal orang lain kecuali posisinya netral atau positif
- Lebih baik menuliskan hal yang baik-baik saja
- Boleh menuliskan kejadian tidak menyenangkan selama akhirnya berujung baik
3. Cara menulis tulisan yang layak dipublikasikan
- Apa niatku memublikasikan cerita ini? Kalau positif, silakan lanjutkan.
- Apakah tulisan ini ditulis dalam keadaan emosi tidak stabil? Jika iya, jangan dilanjutkan.
- Apa pesan yang ingin disampaikan? Atau, apakah tulisan ini cukup menghibur pembaca tanpa menjatuhkan pihak tertentu?
- Apakah cerita ini menyangkut orang lain atau organisasi? Apakah positif dan membangun?
- Setelah menulis keseluruhan cerita, pakai berbagai "topi pembaca": sebagai seseorang yang religius, sebagai pengkritik, sebagai suami, sebagai orang tuaku, sebagai anakku, sebagai orang asing yang tiba-tiba sampai ke blogku, sebagai teman sekolah >> lihat sebanyak mungkin sudut pandang. Jika semua sudut pandang ini bisa menilai tulisan ini netral atau positif, berarti layak publish
- Bagaimana cerita ini disampaikan? Apakah sopan? Apakah menarik?
- Baru dibaca ulang untuk diedit secara teknis: ejaan, ketersambungan kalimat dan paragraf, memasukkan gambar, dll
Harapanku Soal Kegiatan Blogging
Aku tidak ingin dihantui rasa takut untuk menulis. Pasalnya, menulis jadi salah satu cara aku merawat memori. Ada kalanya, kejadian tidak menyenangkan hadir dalam hidupku dan aku ingin sekali menuliskannya supaya aku tidak lupa hikmah apa yang aku dapat dari kejadian itu. Maka, aku putuskan cukup tulis itu di blog atau akun media sosial yang private.
Semoga tulisan ini pun bermanfaat untukmu, ya :)


Posting Komentar
Posting Komentar