Pagi itu aku turun dari kasur. Beranjak ke kamar mandi, aku perhatikan bayanganku pada cermin. Kelopak dan kantong mataku bengkak. Aku menghela napas panjang.
Aku menuruni anak tangga. Rasa nyeri menjalar dari kakiku. Kombinasi nyeri pada otot dan lebam membuatku harus berjalan lebih pelan.
Aku sentuh kaki anakku yang masih terlelap sambil kukatakan,"Zin, jam 7:50."
Tentu saja aku tidak merespon keluhannya yang menyalahkanku kenapa aku tidak membangunkan lebih awal. Toh dia juga tahu, apa yang terjadi semalam.
Ya, malam-malam akhir-akhir ini memang berat. Kalau jurit malam hanya menguji mental, kegiatan malamku menguji fisik dan mental.
Kegiatan itu biasanya baru dimulai jam 10 malam. Berbekal sejumlah obeng, kami membongkar perabotan rumah tangga supaya lebih mudah ditransportasikan.
Untuk barang besar yang tidak bisa dibongkar, mau tidak mau harus diangkut langsung. Aku menopang satu sisi ranjang ukuran Queen Size, sedangkan suami menopang sisi sebrangnya. Suami memberi aba-aba apakah aku harus ke kiri, kanan, atau serong supaya ranjang yang kami bawa bisa melewati pintu dan tidak menggores dinding.
Berhasil keluar dari kamar apartemen, ranjang yang panjangnya sekitar 1,8m itu kami gotong melewati tangga curam menuju parkiran. Lalu ranjang itu kami masukkan ke truk yang aku sewa dan aku kendarai sendiri.
Kembali ke kamar apartemen, aku membuka tumpukan barang yang jarang kami gunakan. Debu mulai beterbangan. Hidungku gatal hingga aku bersin berkali-kali. Mataku pun ikutan gatal dan berair. Sekilas aku lihat wajahku di kaca, mataku mulai bengkak.
Selesai mengelompokkan barang-barang, aku dan suami mengangkat kursi kerja seberat 30kg. Aku pegangi bagian kakinya sambil berjalan mundur, menuruni tangga. Entah apa yang aku injak, kakiku keseleo dan pinjakanku seperti hilang. Badanku tidak seimbang.
Bugh!
Punggungku jatuh ke anak tangga paling bawah. Kursi kerja itu meluncur dan menjatuhi kakiku.
Syukurlah aku masih bisa bangun. Tentunya dengan rasa sakit di sekujur tubuh. Anakku keluar dari kamar apartemen dan menatapku kaget.
Malam itu kami selesaikan pindahan barang-barang hingga jam 2 pagi. Tidur 5 jam pun rasanya masih sangat kurang.
"Zin, Mama antar kamu ke sekolah naik mobil aja. Pulangnya baru kamu naik bus."
Itu pilihan yang lebih aman buatku. Pasalnya aku tak mau bertemu tetangga kami saat aku mengantar anakku ke tempat pemberhentian bus sekolah. Aku tidak mau mereka menduga-duga saat melihat kondisi wajahku yang bengkak dan badanku yang lebam.
#fiksi (terinspirasi dari kegiatan pindah rumah kami selama sebulan terakhir)


Posting Komentar
Posting Komentar