Ilma Hidayati Purnomo

Pandanganku Soal Pernikahan

2 komentar
Kapan ya, kira-kira pertama kali kita, sebagai cewek, mulai aware soal pernikahan? Mungkin waktu kita menonton film Putri Salju, atau putri-putri lainnya. Mereka mengalami berbagai konflik kehidupan, berhasil melewatinya, lalu menikah dengan pangeran tampan.

Mungkin juga sesimpel pas kita dateng kondangan saudara atau tetangga. Pasti ada satu titik kita pernah bertanya kepada orang tua atau orang dewasa yang kita percaya tentang “apa itu pernikahan.”

Aku gak inget kapan pastinya aku mulai tahu soal pernikahan. Tapi, sejak aku mengalami kejadian memalukan, aku pernah bertekad akan menikah di usia tua—setelah orang tuaku tiada. Siapa sangka, aku malah menikah di usia muda dan pandanganku soal pernikahan berubah total.

Dulu… Inilah Pandanganku Soal Pernikahan

Waktu usiaku 10 tahunan, aku pernah menyukai seorang anak laki-laki. Iseng, kutuliskan namanya dan namaku di halaman terakhir buku tulis ditambah simbol hati. Mamaku memergoki tulisan itu.

Ia membawa tulisan itu, menunjukkannya ke Papa. Entah mengapa, aku merasa humiliated. Itu pengalaman memalukan. Menyukai laki-laki adalah hal yang memalukan.

Jika menyukai laki-laki saja sebegitu memalukannya, bagaimana caraku membawa laki-laki yang aku sukai dan meminta izin ke orang tua untuk menikah dengannya?Membayangkannya saja membuatku mual.

Ditambah lagi, pengetahuanku soal pernikahan sangat terbatas. Sumbernya hanya dua: TV (lebih tepatnya sinetron dan acara infotainment) dan praktisi pernikahan yang langsung aku saksikan sendiri—orang tuaku.

Dari TV, pernikahan yang aku lihat seperti terbagi ke dua kutub: pemain sinetron yang manja banget ke pasangan mainnya atau artis yang mengakhiri pernikahannya dengan dramatis—sampai manjat pagar rumah untuk menemui anaknya, misalnya.

Aku hanya menelan mentah-mentah informasi itu tanpa pernah membuat gugatan: adakah pernikahan di dunia ini yang “tidak dramatis”? 

Pernikahan orang tuaku memang tidak dramatis. Tapi core memory-ku juga merekam beberapa momen dramatis yang terjadi dalam pernikahan mereka.

Seperti saat suatu ketika, kedua orang tuaku mulai berbicara dengan nada tinggi. Salah satunya mulai menaikkan tangannya dan menunjuk-tunjuk pihak lain. Terjadi pertumpahan air mata. 

Salah satu di antara mereka masuk ke kamar. Beliau mengeluarkan sejumlah pakaian dari lemari dan memuat pakaian itu ke dalam tas. Beliau membawa tas yang cukup berat itu lalu membuka pintu rumah.

Suara mobil dinyalakan beradu dengan sedu tangis pihak lain yang memilih berada di dalam rumah. Deru mobil menjauh dari rumah, meninggalkan rasa perih di dalam hatiku.

Apakah aku akan ditinggalkan seperti ini jika aku menjalani pernikahan kelak?

Beberapa hari kemudian semua kembali ke rumah. Semua kembali normal. Tapi rasa perih itu sudah terpatri di hati anak kecil perempuan ini. Sejak saat itu, aku tidak lagi melihat pernikahan sebagai happily ever after seperti di film putri-putri, melainkan sebuah lembaga yang problematik. Padahal kejadian di atas hanya terjadi satu atau dua kali.

Disclaimer: tidak ada yang abusive di keluarga kami. Pernikahan mereka bertahan hingga saat ini—sudah jalan tahun ke-33. Setelah menjadi orang yang menjalani pernikahan, aku baru paham apa yang sebenarnya terjadi.

Sekarang… Inilah Pandanganku Soal Pernikahan

Aku memutuskan menikah di usia belum genap 23 tahun. Alasannya… karena udah ada yang melamar πŸ˜‚

Waktu baru menikah, pandanganku soal pernikahan masih agak imajinatif: 1) hidup bersama suami yang mengayomi, mendidik dengan sabar, dan mengutamakanku di setiap hal. 2) bisa menjalani kesibukan masing-masing seperti kerja atau main dengan teman. Lalu, pada malam hari kami bertemu di rumah. Saling menceritakan kesibukan masing-masing. Saling mendengarkan cerita dengan antusias.
Ternyata, pernikahan nggak se-menggemaskan itu. Apalagi dulu kami tidak pacaran dulu sebelum nikah. Kami hampir tidak mengenal karakter masing-masing.

Awal pernikahan terasa berat karena terlalu sering terjadi miskomunikasi. Ditambah, kami harus terpisah jarak dan zona waktu. Suamiku harus berangkat duluan ke Amerika untuk melanjutkan program doktoralnya.

Aku sampai di titik di mana aku memilih pasrah, diam, dan mengiyakan apapun yang suami bilang. Siapa sangka, kondisi rumah tangga kami membaik. Setidaknya sejak tahun ke-5, suasana di rumah sudah lebih kalem.

Karena situasi pernikahan kami sudah lebih stabil, aku mulai bisa melihat lembaga pernikahan dengan kacamata netral. Pernikahan itu bukan lembaga yang problematik,

-Kalau kedua pihak yang terlibat dalam pernikahan, mengutamakan keutuhan rumah tangga di banding ego

-Kalau saat menghadapi konflik, bukan jadi ajang berantem suami vs istri, tetapi suami dan istri vs masalah

-Kalau kedua belah pihak berusaha mengomunikasikan kebutuhannya, bukannya kabur

-Kalau suami dan istri bisa mengedepankan logika ketimbang emosi sesaat

-Kalau saat menghadapi masalah, pasangan itu masih bisa menemukan kebahagiaan kecil yang bisa dirayakan

-dan banyak “kalau-kalau” lainnya

Pernikahan kami tidak sempurna, tapi kami tahu ada banyak hal yang bisa kami improve di dalam keluarga kami.

Pernikahan itu bukan garis finish, tetapi awal mula perjalanan. Happily ever after itu kalau meninggal dalam kondisi khusnul khatimah terus masuk surga 😁

Pada akhirnya, pernikahan adalah sebuah perjalanan hidup yang dipilih sebagian orang dewasa. Selayaknya sebuah perjalanan, setiap individu punya tujuan, rute, dan kendaraan yang berbeda. 

Ada yang rutenya melewati jalan jelek penuh lobang ditambah menggunakan kendaraan mobil elp. Tentu saja perjalanan mereka akan dipenuhi goyangan dahsyat yang mengguncang isi perut.

Ada yang rutenya jalan tol sambil mengendarai Rolls Royce. Perjalanannya mulus dan nyaman.

Juga, selayaknya perjalanan, kita punya kebebasan memilih tujuan, rute dan kendaraannya sesuai kemampuan kita. Aku bersyukur, kini aku bisa melihat pernikahan dalam bingkai yang positif :)

Tulisan ini disertakan dalam Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog yang bertema "Aku dulu vs aku sekarang."

Ilma
Ibu rumah tangga yang kadang belajar hal baru, menulis, memasak, atau ngajar anak. Saat ini tinggal di Amerika Serikat.
Terbaru Lebih lama

Related Posts

2 komentar

  1. Sedih rasanya ketika orang tua belum paham anak juga punya privasi sendiri dan bisa terdampak ketika melihat konflik di depan mereka. Namun setelah menjadi orangtua, aku mulai paham kalau ada situasi yang kadang tidak bisa dihindari. Yang bisa dilakukan kepada anak hanyalah meminta maaf dan berusaha memperbaiki keadaan agar anak tetap merasa aman.

    ‎Aku pun merasakan hal yang sama terkait kenyataan menjalani pernikahan. Banyak hak dan kewajiban suami-istri yang harus ditunaikan. Komunikasi yang baik antara suami-istri dapat menjaga keharmonisan rumah tangga.

    ‎Terima kasih telah berbagi cerita, teh. Mengingatkan kembali bahwa rasa syukur membuat hidup terasa lebih bermakna 😍

    BalasHapus
  2. Semangat teh Ilma ... Turut mendoakan agar perjalanan pernikahan bahagia dunia akhirat, aamiin...

    BalasHapus

Posting Komentar