Ketika Ujian Sakit Datang di Bulan Ramadan
Sejak beberapa tahun terakhir, ibadah puasa terasa berat bagiku. Jangankan puasa, naik turun 10 anak tangga saja bisa membuatku terengah-engah. Padahal, aku sehat (tidak punya riwayat penyakit berat) dan berat badanku tergolong normal berdasarkan Indeks Masa Tubuh. Jadi, setiap menjalankan ibadah puasa, badanku terasa lemas, ototku lemah dan cenderung mudah pegal. Alhasil, aku hanya bisa rebahan saat sedang puasa.
Bulan ini, aku datang ke dokter untuk check up. Dokter memintaku tes darah untuk mengecek kesehatan badanku. Barulah aku tahu kalau hemoglobinku rendah (8,6 padahal batas normal bawahnya 12). Setelah melalui tes lanjutan, diketahui kadar zat besi tubuhku juga rendah. Ternyata aku mengalami anemia karena kekurangan zat besi.
Pantas saja badanku terasa lemas. Orang sehat yang berpuasa saja bisa merasa lemas karena kadar gula darah dalam tubuh menurun. Untuk kasusku, badanku bertambah lemas karena kurang zat besi yang menyebabkan distribusi oksigen ke organ tubuh dan otot menjadi tidak optimal. Sekarang aku sedang menjalani pengobatan dengan meminum obat tambah darah. Sayangnya, proses meningkatkan zat besi dalam darah tidak instan, perlu waktu beberapa bulan.
Ketika Ujian Kehidupan Datang di Bulan Ramadan
Awal tahun, aku diuji dengan banyaknya hal yang harus aku selesaikan. Mulai dari izin tinggal, perpajakan, hingga rencana mengambil KPR. Selama beberapa pekan, aku baru bisa tidur selepas jam 12 malam dan paginya harus bangun pagi untuk menyiapkan bekal anak sekolah. Aku hanya tidur 5-6 jam. Banyaknya pikiran membuatku tidak nafsu makan. Praktis, berat badanku turun hampir 2kg selama dua minggu Ramadan.
Dalam kondisi pikiran yang semrawut, aku jadi sulit menikmati ibadah. Saat solat, aku tidak bisa khusyuk karena pikiranku terus memikirkan daftar pekerjaan yang harus segera kubereskan. Saat membaca Al-Quran, pikiranku malah teringat dokumen-dokumen yang harus aku baca dan formulir-formulir yang harus aku isi.
Dampak kusutnya pikiran benar-benar tidak main-main. Emosiku semakin sulit dikendalikan. Suami dan anak-anak yang menjadi korbannya. Aku lelah dan merasa butuh pelampiasan. Di situlah aku teringat dengan hobi yang biasanya aku lakukan (namun sempat ditinggalkan karena sibuk), yaitu menulis.
Menulis Bukan Sekedar Hobi
Bagiku menulis adalah kegiatan yang membantuku tetap hidup dengan waras. Alasannya:
- Dengan menuliskan pengalaman berharga yang telah aku jalani, aku bisa membebaskan ruang memori otak dari hal-hal penting yang harus aku ingat. Jika aku perlu mengingat kembali pengalaman itu, aku cukup mencari tulisannya dan membaca ulang.
- Aku percaya, tulisan yang aku tulis akan memberikan manfaat bagi orang lain karena sebagian besar yang aku tulis berupa pengalaman atau renungan hidup.
- Kegiatan menulis juga membantuku melepaskan emosi negatif yang bergerumul dalam dada. Untuk tujuan pelampiasan, aku biasa menulis di media yang privat.
- Kegiatan menulis mendidik otakku untuk bekerja secara sistematis dan terstruktur. Selain itu, ada banyak aspek kegiatan menulis yang harus dipelajari supaya informasi yang ingin aku sampaikan ke pembaca bisa tersampaikan secara efektif melalui tulisanku. Maka, kegiatan menulis adalah salah satu kegiatan belajar sepanjang masa.
Menulis Bisa Menjadi Salah Satu Ibadah di Bulan Ramadan
Berhubung aku masih sering merasa lemas dan cenderung mudah kedinginan, aku memaksimalkan kegiatan di kasur. Aku mengajari anak keduaku pelajaran matematika di kasur. Aku mereview dokumen dan mengisi formulir cukup menggunakan laptop sambil duduk di kasur sambil selimutan. Saat semua kerjaan wajibku beres, aku tinggal membuka blog di laptop/ponsel pintar untuk membuat tulisan.
Sambil menulis, aku memastikan apa yang aku tulis hanyalah yang bermanfaat. Tidak ada tulisan membuka aib, menyebarkan fitnah, apalagi menyudutkan orang lain. Aku juga memastikan menyelipkan hikmah dalam tulisan yang ingin aku publikasikan. Maka, tidak salah kan kalau aku meniatkan kegiatan menulis menjadi salah satu ibadah di Bulan Ramadan?
اِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِانِّيَّةِ
Amal itu tergantung niatnya. Selama aku meniatkan amalan menulis sebagai ibadah, mudah-mudahan Allah menerima kegiatan menulisku sebagai amalan baik di sisi-Nya. Buat kamu yang suka menulis, apakah kamu juga mau meniatkan kegiatan menulismu menjadi ibadah?
Tentang Blog Ini
Blog ini memang menjadi media utamaku mempublikasikan tulisan. Sejauh ini, tema yang paling sering aku angkat adalah kehidupan sehari-hari di Amerika. Berhubung tulisan di blog ini masih 100% dituliskan dalam bahasa Indonesia, mungkin tidak semua pembaca bisa relate dengan isi blogku. Namun, aku berusaha menggali hikmah dari kejadian yang terjadi di Amerika. Mudah-mudahan hikmah yang aku tuliskan bisa diaplikasikan kepada siapapun dan di manapun.
Blog ini tetap akan menjadi ruang pribadiku untuk menyuarakan opini dan menceritakan kembali pengalaman yang menurutku berharga. Tentu, aku juga senang jika tulisan di blogku bisa menghibur dan bermanfaat bagi para pembaca. Kalau kamu adalah salah satu yang sering berkunjung ke blogku, coba kasih tahu, tulisan apa yang paling kamu sukai dari blog ini? Silakan kirim di kolom komentar di bawah ini, ya. (Postingan ini juga bisa dikomentari secara anonymous!)
Terima kasih untuk Blogspedia yang menyelenggarakan tantangan menulis di bulan Ramadan :)
#TheCupuerIsBack
#RamadanSoulJourney
#BloggingAsIbadah




Posting Komentar
Posting Komentar