Kalau mempertimbangkan tema: “Tempat/Lokasi yang Membentukku”, saya akan memilih:
🌆 Chicago
Bukan karena dua tempat lainnya kurang kuat — justru semuanya kaya makna — tapi Chicago punya konflik, transformasi, dan kedewasaan yang biasanya membuat tulisan jauh lebih dalam dan emosional. Itu bahan yang sangat “blog-worthy.”
Berikut alasannya:
2️⃣ Ada transformasi diri yang jelas
3️⃣ Punya sudut refleksi yang lebih matang
4️⃣ Potensi pembuka yang kuat
Bayangkan kamu membuka tulisan seperti ini:
“Aku tidak pernah menyangka bahwa kota dengan angin sedingin ini justru mengajarkanku cara bertahan paling hangat.”
Langsung ada rasa. Ada atmosfer.
Tinggal pilih, kita maksimalkan waktu 3 jam itu 💛
Wah, penuh empati sekali ya, dia ini (kayaknya jauh lebih berempati dibanding kalau lagi cuhat sama suami. Ups! 😅). Jawabannya lebih panjang sebetulnya (setiap poin dia jabarkan juga). Saya minta buatkan outline-nya sekalian. Di akhir jawaban soal outline, dia langsung tanya, mau dibuatkan berapa jumlah kata? 800? 1000? 1200?
Saya bilang, 800 saja (biar saya gak capek ngecek dan ngeditnya wkwk). Langsung keluar hasilnya, 820 kata. Setelah baca sekilas, saya membatin, kayaknya ada yang kurang, deh. Kurang dramatis! Saya coba tambahkan beberapa prompt biar berasa lebih hidup, lebih nyata dan bahasanya lebih "Ilma".
Setelah empat prompt kemudian (karena pakai akun gratis, jadi ada batasnya), jadilah tulisan di bawah ini yang sudah saya kurang-kurangi dan tambahkan sendiri:
Kota Dingin yang Mengajarkanku Bertahan
Aku tidak datang ke Chicago dengan harapan yang menggebu. Tetapi hanya dengan satu tiket sekali jalan.
Saat pesawat lepas landas dari Indonesia, aku tahu ini bukan perjalanan sementara. Bukan liburan, tetapi perpindahan hidup. Aku bahkan tidak tahu apakah ada jalan untuk kembali. Semua terasa seperti melompat tanpa tahu di mana akan mendarat.
Transit di Singapura memperjelas perasaanku. Di tengah perjalanan panjang yang melelahkan, aku dan suamiku terlibat konflik yang nyaris membuatku memutuskan tinggal di Bandara Changi saja, tidak ikut sampai ke Chicago. Setelah tenang, aku duduk diam, memandangi orang-orang yang lalu lalang, sambil bertanya dalam hati: jika belum sampai saja sudah terasa sulit, bagaimana nanti setelah benar-benar tinggal di negeri orang?
Ketika akhirnya tiba di Chicago, aku otomatis masuk ke mode survival.
Kami belum punya apa-apa selain tekad. Aku tidak punya keterampilan memasak yang memadai. Selama beberapa waktu, aku, suami, dan anak kami yang masih satu tahun, hidup dengan menu yang sangat sederhana: nasi dan telur goreng.
Aku yang sebelumnya tidak suka berada di dapur, mendadak harus belajar perdapuran dari nol. Suamiku mengajariku dasar-dasar memasak: cara menumis, membumbui, mengatur api. Pelan-pelan aku mulai berani memasak daging sapi. Kami akhirnya bisa makan sesuatu yang lebih berbumbu daripada sekadar telur goreng. Mungkin terdengar sederhana, tapi bagiku itu pencapaian besar. Dari dapur kecil itu, aku belajar bahwa kemampuan bisa dibangun, selama mau mencoba dan tidak malu untuk belajar.
Tantangan berikutnya adalah bahasa.
Aku tidak percaya diri dengan kemampuan bahasa Inggrisku. Setiap kali harus berbicara dengan orang lain, aku merasa gugup. Takut salah. Takut tidak dimengerti. Suamiku mendorongku untuk keluar rumah, bertemu ibu-ibu lain, mencoba bersosialisasi. Awalnya aku benar-benar struggling. Aku sering mengulang kalimat dalam kepala sebelum mengucapkannya.
Namun semakin sering aku mencoba, semakin aku terbiasa. Ternyata yang kubutuhkan hanyalah keberanian. Nyatanya, dalam berkomunikasi, lawan bicara akan selalu berusaha memahamiku. Mereka akan bertanya lebih lanjut biar sama-sama paham. Lama-kelamaan, aku mulai lebih luwes. Aku bahkan berani pergi sendiri ke kantor pemerintahan setempat untuk mengurus dokumen. Dulu rasanya mustahil. Sekarang aku tahu, aku hanya perlu membiasakan diri.
Belum selesai sampai di situ, enam bulan setelah tiba di Chicago, aku tahu-tahu hamil. Tepat saat pandemi COVID-19 melanda.
Dunia seakan berhenti. Lockdown diberlakukan. Rumah sakit membatasi kunjungan. Aku menjalani awal kehamilan tanpa bisa memeriksakan diri secara rutin. Ada rasa cemas yang tidak bisa kuceritakan sepenuhnya. Aku sampai di titik, yang penting pas mau melahirkan nanti, aku tinggal pergi ke Emergency Room, pasti akan ada yang menolong. Pasrah menjalani kehamilan tanpa bisa kontrol.
Syukurlah, saat usia kehamilan memasuki lima bulan, aku sudah bisa mulai kontrol ke rumah sakit. Namun menjelang persalinan, dokter mengatakan bahwa ukuran janinku terlalu kecil untuk usianya. Aku diminta untuk melakukan induksi sebelum hari perkiraan lahir. Aku pikir, ujiannya cukup sampai di situ. Lima hari sebelum jadwal induksi, aku mengalami kecelakaan mobil.
Rasanya seperti adegan yang terlalu cepat. Terlalu banyak “dar der dor” dalam waktu berdekatan. Aku dirawat di rumah sakit untuk observasi kondisi pasca kecelakaan. Di tengah rasa syok dan kelelahan, setelah satu malam dirawat, aku ditawari untuk langsung menjalani induksi.
Akhirnya, kelahiran anakku dipercepat.
Di ruang rumah sakit itu, aku menyadari satu hal: hidup tidak pernah benar-benar memberi aba-aba sebelum berubah arah. Ia datang tiba-tiba. Mengejutkan. Kadang menakutkan.
Chicago bagiku adalah tempat yang penuh kejutan. Banyak pengalaman baru yang membuatku terkejut, kewalahan, bahkan hampir tumbang. Tapi justru di situlah aku belajar cara merespons.
Aku masih panikan, tapi sekarang aku bisa mengendalikan rasa panikku. Aku belajar bahwa ketakutan tidak harus menghentikan langkah. Aku menyadari bahwa aku mampu menghadapi hal-hal yang dulu kupikir terlalu besar untukku. Ini semua mendongkrak rasa percaya diriku.
Dari nasi dan telur goreng, aku belajar membangun kemampuan.
Dari percakapan yang kaku, aku belajar keberanian.
Dari lockdown dan kehamilan, aku belajar kesabaran.
Dari kecelakaan dan persalinan yang dipercepat, aku belajar menerima bahwa tidak semua hal bisa dikendalikan.
Chicago mungkin bukan kota yang menyambutku dengan kelembutan. Ia menyambutku dengan ujian. Tapi dari ujian-ujian itulah aku ditempa.
Kini, ketika mengingat tiket sekali jalan itu, aku tidak lagi melihatnya sebagai simbol ketidakpastian. Aku melihatnya sebagai awal dari proses pembentukan diri. Kota ini memang penuh kejutan yang datang tanpa permisi. Tetapi justru karena itu, aku belajar menjadi lebih sigap, lebih tenang, dan lebih kuat.
Jika ada yang bertanya tempat mana yang membentukku menjadi diriku hari ini, jawabannya adalah kota dengan angin menusuk dan cerita tak terduga ini: Chicago.
Di sinilah aku belajar bahwa bertahan bukan berarti tidak takut. Bertahan berarti tetap melangkah meski takut. Dan dari langkah-langkah kecil itulah, aku berubah.





Posting Komentar
Posting Komentar