Jam sudah menunjukkan waktu setengah 2, padahal kami harus mengambil mobil di tempat rental jam 2. Perjalanan kami masih perlu waktu 45 menit. Waktu aku cek Google Maps lagi, waktu perjalanan kami baru saja di update secara real time. Aku kaget, ternyata masih perlu 1,5 jam lagi! Gara-garanya, saat nanti turun di stasiun kereta, aku harus nunggu 30-40 menit untuk transfer ke bus.
Wah, gak bener sih, ini. Ya kali nungguin bus selama itu. Diskusi sama suami, kami coba cari opsi lain. Kami bakal turun dari kereta di stasiun, lalu naik Uber ke tempat ambil mobil. Toh cuma $17. Jangankan pakai nunggu lama di bus stop, ini aja udah telat buat ambil mobil. Karena takut bikin Mas Muhsin nunggu lama, suami nelpon lagi Mas Muhsin dan memintanya untuk pergi duluan ke rumah Mas Roni.
Perjalanan di kereta memang cukup jauh, sekitar 30 menit. Aku amati, mata anak pertamaku mulai sayup-sayup. Akhirnya, dia ketiduran. Tadi aja di pesawat 3,5 jam, dia gak tidur sama sekali. Gilirannya di kereta malah tidur. Dasar bocah wkwk (mungkin dia bosen, gak ada layar buat dia nonton film).
Sampai di stasiun pemberhentian kereta, kami segera keluar gedung menuju pinggir jalan untuk menunggu jemputan Uber kami datang. Angin kencang langsung menerpa tubuh kami. Badanku yang tadinya berkeringat karena menggunakan baju berlapis, kini mulai kedinginan karena angin yang menusuk tulang. Ah, Chicago. The windy city. Anginnya memang gak main-main.
 |
| Menerjang angin Chicago kayak Spongebob |
Lima menit menunggu Uber saja terasa menyiksa. Bagaimana kalau tadi kami memutuskan menunggu bus sampai 30 menit? Mungkin kami jadi beku! Wajar kalau jadwal bus semakin jarang. Pasalnya, ini hari libur. Sepanjang naik Uber selama 13 menit pun kami hanya melihat 1-2 bus yang lewat.
Dari tempat supir Uber menurunkan kami, kami hanya perlu berjalan 50 meter. Itu pun rasanya badan kami seperti hampir terbawa angin. Saat kami meraih pintu gedung rental, pintunya tidak bisa di buka, alias terkunci! Kami intip ke dalam ruangan pun tampak tidak ada staf. Di pintu tertulis bahwa kantor rental hanya buka sampai jam 2 siang pada hari libur. Kami sampai di sana jam 2:15. Masa telat 15 menit aja, kami gak dilayanin?!
Waktu pikiran udah mulai panik, terutama karena makin kedinginan, tiba-tiba aja muncul orang dari dalam. Dia membuka kunci pintu dan mempersilakan kami masuk. Staf Sixt (nama perusahaan rental mobil) bertanya nama dan nomor HP pemesan mobil. Kali ini, aku menggunakan nama suami. Pengalaman tahun 2024 aku pernah memesan rental mobil pakai namaku, ternyata untuk bayar deposit harus pakai kartu kredit atas namaku. Kartu kreditku udah hampir over limit (karena emang batasnya cuma $200) jadi weh ribet.
Sekarang, pakai SIM dan kartu kredit suami. Prosesnya berjalan lancar. Staf itu bilang kalau mobil yang kami pesan tidak ada (kami pesan mobil yang paling murah). Adanya mobil yang level di atasnya. Jadi, kami diperbolehkan milih mobil yang tersedia tanpa menambah biaya. Alhamdulillah! Pilihan kami ada dua: Hyundai Tucson atau Ford Escape. Sejujurnya, di pikiranku udah milih Hyundai Tucson. Tapi suami lebih considerable. Dia tanya ke stafnya, mana yang lebih reliable. Staf itu menyarankan Hyundai Tucson. Itulah yang kami ambil.
Beres milih mobil, mulai dengan penawaran berbagai adds on. Seperti car insurance, sebesar $15/hari. Kami bilang, asuransi mobil kami mengcover mobil rental juga, kok. Padahal enggak hehe. Ini termasuk ilegal, ya. Semua mobil yang dikendarai harus ada asuransi mobilnya. Terus, ditawarin roadside asistant atau bantuan teknisi kalau mobilnya kenapa-kenapa pas di jalan. Ada tambahannya juga sekian dolar perhari. Selanjutnya, ditawarin apakah mau memasukkan namaku sebagai driver dengan menambahkan $15/hari. Kami bilang, gak usah, suami aja yang nyetir (padahal enggak wkwk). Ilegal dikit, Bismillah gapapa. Akhirnya, harga sewa mobil kami tidak berubah: $190 untuk seminggu.
Keluar dari gedung setelah urus dokumen ambil mobil rental, kami naik ke parkiran lantai 7. Sebelum masuk mobil, kami video-in dulu kondisi mobilnya. Suami yang nyetir selama satu jam-an ke arah hotel Red Roof PLUS+ di Willowbrook. Beres check in, aku keluarin beberapa tas dari mobil, ditaroh di kamar hotel. Aku juga harus ngelepas gamis berlapis-lapis yang kupakai, plus touch up make up. Lanjut, aku nyetir selama 1,5 jam ke De Kalb menuju rumah Mas Roni.
Jam 5 sore, kami sampai di dekat rumah Mas Roni. Kami parkir di pinggir jalannya. Beberapa mobil sudah terparkir di sana termasuk Mazda CX-9 baru berwarna burgundy milik Mas Muhsin. Sambil memperbaiki kerudung yang aku kenakan, excitement membuncah di dalam dada. Terutama saat pintu rumah Mas Roni di buka. Kami disambut seperti keluarga jauh yang datang berkunjung!
Baru masuk ke pintu, ada Mba Bintang, istri Mas Muhsin menyapaku. Teh Gan-gan, istri Mas Roni menyuruh kami menuju dapur. Masuk dari pintu, kami langsung disuruh makan! Kapan lagi coba kami merasakan kehangatan keluarga seperti ini? Apalagi keluarga kandung kami tinggal di Indonesia semua. Inilah yang kami butuhkan selama tinggal di perantauan :')
Aku duduk dengan semangkuk mie ayam sambil menyaksikan beberapa orang sedang karaokean. Apakah aku kenal semua orang yang hadir di sana? Tidak juga, tapi ada beberapa orang yang sudah akrab denganku. Bahkan, untuk aku yang tergolong seorang introvert, aku merasa betah berlama-lama di sini. Tinggal jalan ke arah dapur, ambil makanan, duduk, ngobrol ngalor ngidul lagi. Bener-bener kayak lagi melepas kangen sama sahabat dekat rasa saudara sedarah.
Makanan yang disajikan juga khas rumahan semua. Ada nasi bakar, ayam bumbu merah, bakso dan masih banyak lagi yang aku nggak ingat. Hampir semua orang yang datang ke sana, memasak satu makanan dan membawanya. Jadi, kayak potluck (botram kalau bahasa Sundanya). Paling, makanan yang dibeli dari luar cuma kue atau buah-buahan. Makanan rumahan, orang-orang yang akrab, bernyanyi bersama. Sungguh sebuah kehangatan yang kami cari di tengah dinginnya musim dingin Chicago.
Saking nyamannya, aku gak sempat buka HP apalagi ambil foto-foto. Pokoknya menikmati suasana sampai pol. Saking polnya, kami baru pulang jam 11 malam. Itu pun belum semua orang memutuskan untuk pulang loh, ada juga yang nginep. Kalau ditanya, ini acara dalam rangka apa? Ngumpul-ngumpul aja, mumpung lagi libur Thanksgiving. Keluarga Mas Roni mah emang gitu. Suka ngundang temen-temen buat ngumpul pas lebaran atau hari libur lainnya.
Aku masih punya tugas mengantarkan keluargaku dengan selamat sampai ke hotel. 1,5 jam perjalanan menuju hotel dalam keadaan kenyang tapi sangat lega. Rasanya seperti melepaskan rasa rindu yang sudah dikumpulkan setahun lebih (setelah pindah ke Seattle). Teman-teman di Chicago ini adalah orang-orang yang menerima kami apa adanya, dengan tangan terbuka, dan hangat. Sesuatu yang tidak aku temukan dari acara kumpul-kumpul orang Indonesia di Seattle.
Seattle Berbeda dengan Chicago
Selama perjalanan ke hotel, aku dan suami berkontemplasi. Apa bedanya orang-orang Indonesia di Seattle dan Chicago? Kok kami bisa senyaman itu sama orang-orang di Chicago tapi nggak begitu nyaman dengan orang-orang di Seattle? Kami pikir, berikut ini alasannya:
1. Homogenitas pekerjaan
Orang-orang Indonesia di Seattle kebanyakan adalah pekerja di perusahaan IT atau pesawat terbang. Kebanyakan dari mereka juga sudah tua. Jadi mereka lebih akrab dengan sesama pegawai yang sudah sama-sama lama di sini. Ngobrol antar mereka pun lebih nyambung dibanding dengan kami yang masih muda, baru datang, dan bahkan kerja di perusahaan kecil.
Suamiku berseloroh, " Kalau sama orang di Seattle paling ngobrolnya: gimana kabarnya, Pak? Baik. Udah weh." 😂😂
Berbeda dengan orang-orang Indonesia di Chicago yang terdiri dari berbagai lapisan usia dan pekerjaan. Ada yang bekerja sebagai pengusaha, pegawai KJRI, polisi, mahasiswa, bahkan pegawai supermarket. Usianya juga beragam, ada yang seusia kami, hingga 70+ tahun. Alhasil, banyak yang bisa kami jadikan bahan obrolan karena pengalamannya juga beda-beda.
Gimana dengan orang-orang muda yang tinggal di Seattle? Yah, obrolannya gak nyambung di aku. Yang para pekerja, bahasnya kalo gak pekerjaan, ya tentang duid. Yang emak-emak, karena masing-masing suaminya cukup berduit, obrolannya belanja terus. Lah, aku kan tetap mempertahankan gaya hidup hemat ala mahasiswa. Gak cocok, deh.
2. Tingkat pendapatan
Secara rata-rata, pendapatan penduduk Seattle memang lebih tinggi dibanding pendapatan penduduk Chicago. Tentu saja orang Indonesia yang tinggal di kedua tempat ini akan ikut mengalami dampak perbedaan pendapatan dan biaya hidup. Karena lebih "kaya-kaya", orang-orang Indonesia di Seattle cenderung lebih berhati-hati dan menutup diri. Sedangkan orang-orang Indonesia di Chicago cenderung bersikap santai dan terbuka. Tentu beda yah, orang yang berduit kan gak asal ngundang orang ke rumah. Kalau di Chicago, kami merasa lebih bebas mau berkunjung ke rumah teman siapa saja asalkan kenal dan sudah bilang kalau mau datang.
3. Beda kultur
Meskipun sama-sama orang Indonesia, nyatanya, tinggal di beda kota di Amerika pun bisa membentuk kultur yang berbeda. Orang-orang Indonesia di Chicago lebih terbuka terhadap perbedaan. Kami pernah datang ke dua rumah teman orang Medan dan non-Islam. Mereka ngumpul-ngumpul dan nyanyi-nyanyi lagu yang aku gak tau itu religi apa bukan. Tapi aku dan suamiku merasa diterima secara hangat meskipun minoritas (kami bukan satu-satunya muslim yang datang ke kedua acara tersebut).
Keterbukaan juga tampak pada acara pengajian rutin. Pengajian di Chicago tidak terkesan eksklusif. Tempat acara pengajian memang biasanya di rumah salah satu orang Indonesia yang bersedia jadi host atau menggunakan wisma milik KJRI. Kalau acaranya di rumah orang Indonesia, berarti para peserta harus menerima apa adanya kondisi rumah host.
Nyatanya, malah banyak orang yang datang dan mereka betah berlama-lama. Ibu-ibu yang hadir juga tidak semuanya berkerudung, tidak sedikit yang pakai kerudung pas acara pengajian aja, begitu beres acaranya, langsung dilepas kerudungnya. Acara pengajiannya itu santai, gitu. Kayak lagi acara pengajian di rumah saudara. Padahal aku sendiri juga belum pernah dateng ke acara pengajian di rumah saudara seadarah. Hubunganku sama saudara sedarah malah nggak seakrab hubunganku sama teman-teman di Chicago wkwkwk
Beda sama acara pengajian di Seattle yang selalu di gedung masjid. Acaranya terstruktur, ada tim acara, tim seksi konsumsi. Makanan yang disajikan juga ala prasmanan yang rapi. Rasa makanannya juga lebih mirip masakan beli (jadi beneran persis resto prasmanan). Jadi, orang-orang datang, duduk menyimak pengajian, rebutan makanan untui dibawa pulang, terus meninggalkan masjid. Gak bergitu kerasa ramah-tamahnya (atau mungkin aku aja yang merasa asing).
Meskipun judulnya sama-sama pengajian + potluck, di pengajian Chicago masih keliatan kentara kalau setiap orang masak masakan rumahan, ditaroh secara tidak terstruktur di meja yang tersedia, terus kita makan rame-rame. Kalau di pengajian Seattle, semua terasa rapi dan kurang humanis.
Aku bahkan pernah bawa gorengan di dalam kontainer plastik. Aku taroh aja di atas meja. Tau-tau kontainerku entah ke mana. Isi gorengannya juga gak tau dibagiin apa gimana. Aku gak liat lagi. Sedih gitu rasanya, aku bawa makanan buat dimakan rame-rame tapi cuma jadi makanan yang masuk ke sebuah sistem penyajian makanan.
Gini cerita lengkapnya. Habis aku naroh si kontainer plastik, ada ibu-ibu yang ngasih aku sebuah mangkok kertas berisi buah dan gorengan. Gorengannya kayak bakwan yang aku bikin tapi masih renyah, yang pastinya bukan bakwan yang aku bikin. Soalnya, pas aku cek sebelum berangkat, bakwan yang aku bikin udah lembek (aku jarang bikin gorengan dan emang hari itu bela-belain pingin bawa ke potluck pengajian).
Pas aku cek ke meja tempat aku naroh container berisi gorengan, kontainerku udah gak ada. Tapi aku juga gak liat ada bakwan yang disajikan di meja. Kan aku jadi berprasangka, ya. Kalau containerku udah gak ada, terus ada seksi konsumsi yang menguji kelayakan bakwan yang aku bawa, gak ada tanda-tanda bakwan itu tersaji untuk dimakan semua orang (misalnya ditaroh di meja), apa mungkin ....?
Ya mungkin juga dibagiin langsung di mangkok kertas kayak yang aku terima dari ibu-ibu seksi konsumsi. Tapi, aku liat orang-orang yang datang setelahku, mangkok kertas mereka gak berisi bakwan ataupun tempe goreng tepung yang aku bawa. Gak tau lah. Pokoknya aku sedih.
Kenapa sih, gak ditata di atas meja aja semua makanan yang dibawa sama peserta pengajian? Biar keliatan kalau itu disajikan dan orang yang mau makan kan tinggal ambil. Itu sebabnya aku jadi males masak buat bawa ke potluck. Aku juga jarang ke pengajian di sini.
Dan lagi, aku memang gak bisa nemuin lagi kontainerku pas mau pulang. Hiks, ilang deh 😢
Kultur yang Harus Kupahami
Masa sih, di Seattle gak ada yang deket? Ada, dong. Ada Bu Rida, Mamanya Teh Acit (ketua Writing Club IMSIS). Ada Mba Nina, anggota Writing Club IMSIS. Ada Mba Alver, anggota ITB Motherhood. Memang nggak murni baru bener-bener kenal di Seattle hehe.
Meskipun aku belum nyaman, bukan berarti aku menghindari ketemu orang loh, ya. Aku juga pernah pergi sendirian ketemu ibu-ibu di sini beberapa kali (tanpa suami). Aku berusaha menjadi orang yang terlihat dan berguna buat komunitas orang Indonesia. Again, aku tetap merasa ada sesuatu yang hilang.
Misalnya, waktu aku sampai anak-anakku masuk ke rumah Mas Roni, Bu Intan langsung berkomentar, "Ih, anak-anak ini tinggi ya, sekarang!" Itu berarti mereka notice dan peduli! Dulu, mereka udah sering liat, ketemu, bahkan main sama anak-anak. Jadi, mereka masih inget.
Orangtuaku yang baru ke sini dan ketemu anak-anakku setahun malah komentarnya, "Kok anak-anaknya kecil-kecil sih, badannya?" Jujur, aku gak tau seberapa distorted hasil video di kamera atau video call wkwkwk. Mereka gak pernah ketemu dan cuma berekspektasi. Makanya, waktu ke Chicago, rasanya kayak ketemu saudara yang udah lama gak ketemu, kan?
Suami juga berseloroh, “Gak perlu lah pulang kampung ke Indonesia, ke Chicago aja rasanya udah pulang kampung." :')
Jujur, aku juga bahkan kehilangan alasan buat pulang ke Indonesia. Saudara sepupuku aku sapa buat nanyain kabar orang tuanya aja gak bales pesanku, tuh. Aku udah dianggap nggak ada :)
Yah, walaupun di sini pun sebenernya sesama peserta pengajian itu nyadar sama aku, tapi kadang ragu dan sungkan buat nyapa kalau ketemu di luar. Soalnya, aku juga gak inget namanya huhu. Banyak banget orangnyaaa :(
Aku dapat beberapa saran soal bersosialisasi di sini. Waktu itu, aku pernah ngumpul sama mamah-mamah muda. Mereka bilang ibu-ibu di pengajian gaya ngobrolnya masih mirip ibu-ibu rumpi di Indonesia: suka kepo. Jadi, aku harus santai aja, jangan dimasukin ke hati.
Terus, ada juga temen orang Indonesia yang bekerja jadi agen penjual rumah. Dia juga dulunya nemenin suaminya S3 di Michigan. Ternyata, dia juga syok sama pergaulan orang Indonesia di sini! "Nggak hangat. Nggak santai." Hahaha, aku gak sendirian.
Sarannya, aku harus kasih effort lebih kalau mau nge-blend-in. Ikut bantu-bantu. Ikut berbagai acara. Gitu-gitu lah.
Ternyata, tinggal di wilayah yang banyak orang Indonesianya belum tentu menjadi lokasi yang enak ditinggali. Aku inget pernah nimpalin komentar ke postingan orang yang merasa sesama orang Indonesia di US kok saling senggol. Aku cerita kalo orang Indonesia di tempat tinggalku dulu (Chicago) supportif banget, kok. Kami pernah diundang makan-makan ke rumah orang Indonesia, suami istri lanjut usia, buat merayakan kelulusan suamiku dan mahasiswa lainnya. Akhirnya, aku merasakan sendiri, tidak semua tempat kayak gitu :)
Posting Komentar
Posting Komentar