Mama Razin (Ilma Hidayati Purnomo)

Asuransi Kesehatan Gigi di Amerika

Masih ingat dengan gigi bolongku yang tak terawat sejak hampir dua tahun lalu? Akhirnya, masalah ini mulai menemui titik terang.

Aku pergi ke klinik Friend Health buat ke dokter gig umum. Alhamdulillah, di sini ada program sliding scale atau diskon biaya kontrol sesuai kemampuan bayar. Jadi aku cukup kasih slip gaji, nanti diputuskan aku harus bayar berapa.

Dari harga kontrol yang umumnya $135, aku cukup bayar $45 saja. Alhamdulillah tsumma alhamdulillah.

Seperti biasa, untuk periksa ke dokter aku telpon dulu kliniknya untuk buat appointment. Kasusku termasuk emergency karena aku mengeluh adanya rasa sakit.

Aku pergi ke klinik sendirian, setelah berusaha mengendap-endap, kabur dari dua anak. Alhamdulillah, mereka anteng ditinggal sama bapaknya aja.

Klinik ini tergolong baru, Masih kinclong, nyaman banget.

Setelah selesai registrasi, masuk. X-Ray (ya, di setiap klinik gigi pasti ada rontgen nya. Alatnya pun simpel, bisa masuk ke dalam lemari) sama susternya. Barulah dokter giginya masuk dan meriksa. 

Terus dia cuma bilang, wah ini sih terlalu banyak bagian mahkota giginya yang hilang. Cabut aja, ya. Nanti aku kasih surat rujukan ke dokter gigi spesialis bedah mulut (oral surgery). 

Tau gak, hati aku berteriak Alhamdulillah! Akhirnya disuruh cabut aja. Soalnya, kalau harus dibenerin, kan harus melalui tahapan perawatan saluran akar (root canal) dan dibuat mahkota gigi pasangan (crown), biayanya bisa sampai $3000 tanpa asuransi. Beuh, itu gaji satu bulan langsung ludes buat benerin gigi bolong aja. Aku yakin banget kalau cabut gigi gak bakalan semahal itu. 

Di surat rujukan ada lampiran X-Ray dan klinik dokter gigi yang harus dihubungi. Hampir sebulan aku habiskan buat nelponin 6 klinik. Ada yang baru punya jadwal kosong di bulan Maret, ada juga yang ditelpon gak pernah diangkat. Ada yang harus ngisi form online buat bikin jadwal. 

Demikianlah ribetnya akses kesehatan gigi di Amerika. Sakit giginya sekarang, cabut giginya 3 bulan lagi. Terus, setiap kasus sakit gigi ada spesialisasnya. Cabut gigi yang mungkin patah, harus ke oral surgery. Bersihin karang gigi, harus ke periodontic. Ada lagi endodontic, entah buat apa lah. Bisa dibilang, dokter gigi umum (general dentist) di sini rada gabut. Toh mereka cuma kirim-kirim pasien ke spesialis lain pakai surat rujukan. Ya pantes kliniknya kinclong, periksanya cuma 5 menit terus dirujuk. 

Setelah telpon-telpon klinik bedah mulut, ditarik lah tiga kesimpulan: 1) paling cepet jadwal dokternya bulan maret, 2) kalau tanpa asuransi habisnya sekitar $400 (buat cabut dan konsul), 3) kalau mau pakai asuransi, daftar yang tipenya PPO karena tipe ini yang diterima sebagian besar klinik. Hayo, loh apa pula itu? 

Ada dua klinik yang gak bisa aku telpon. Jadi aku cuma bisa isi form online dan berharap mereka bakal hubungin aku. Ditunggu sampai dua minggu gak ada kabar, aku cuma bisa pasrah. Eh, alhamdulillah tanggal 15 Desember lalu dapet kabar dari salah satu klinik, St. Bernard Hospital. 

Ditelpon gitu, mana pas lagi ke luar kota dan lagi makan di restoran. Intinya aku dapet jadwal tanggal 10 Februari (setidaknya gak Maret) dan cukup bayar $175 buat cabut dan konsul. Waw! Setengahnya, alhamdulillah. 

Sekarang tinggal nunggu aja jadwal ke dokter sambil menikmati sakit gigi yang kadang timbul tenggelam dan agak nyeri-nyeri sedap. Wkwkwk. 

Ilma Purnomo (Mama Razin)
Perempuan Indonesia yang saat ini tinggal di Chicago, USA, menemani suami kuliah doktoral. Seorang ibu rumah tangga yang disibukkan oleh dua putranya (Razin dan Zayn). Suka menulis dan belajar hal baru.

Related Posts

Posting Komentar