Mama Razin (Ilma Hidayati Purnomo)

Pengalaman Belajar Bahasa Asing

Sejauh ini aku sudah pernah belajar 4 bahasa asing: Bahasa Inggris, Bahasa Jepang, Bahasa Jerman, dan Bahasa Arab dengan metoda yang berbeda pula. Pengalamanku masih sangat sedikit, mengingat dari semua bahasa yang aku pelajari hanya Bahasa Inggris yang cukup fasih. Akan tetapi, aku mau berbagi sedikit soal pengalaman belajar bahasa asing.

Kenapa perlu belajar bahasa asing, sih? Ada 3 alasan pribadi yang mendasari keinginanku belajar bahasa asing. Yang pertama, supaya memudahkan aku apabila suatu saat aku ingin pergi ke negara lain. Selain itu, mempelajari bahasa juga baik untuk mengasah otak, terutama mengasah kemampuan berbahasa. Yang terakhir, aku hobi belajar bahasa. Ada sesuatu yang menarik dari setiap bahasa yang aku pelajari.

Bahasa Inggris

Pertama kali aku mengenal Bahasa Inggris ketika aku mempelajarinya di tingkat SD, sekitar kelas 3. Karena kepolosan aku waktu itu, saat seorang temanku sedang pamer soal kemampuan Bahasa Inggrisnya setelah mengikuti les, aku menjawab Bahasa Inggris dari bunga-bunga adalah ‘flower-flower’ sedangkan dia sudah tahu bahwa untuk bentuk jamak menggunakan tambahan ‘s’. Kemudian, kemampuan Bahasa Inggrisku meningkat sejalan dengan banyaknya les yang aku ikuti. Mulai dari kursus privat di rumah guru Bahasa Inggris ketika SD hingga mengikuti kursus secara khusus di lembaga.

Saat aku duduk di kelas 5SD, aku sudah mengikuti beberapa kompetisi Bahasa Inggris. Salah satu yang aku ingat adalah kompetisi acak kata atau Scrabble. Waktu itu kompetisinya dilakukan di sebuah lembaga kursus di Jalan Buah Batu (saat aku SMP lembaganya sudah tutup wkwk). Aku mengikuti kompetisi dalam sebuah tim berisi 3 orang, 2 orang lainnya kakak kelas. Sayang, langkah kami terhenti di penyisihan kedua.

Menginjak bangku SMP, aku mengikuti kursus Bahasa Inggris di LIA dalam program English for Adults (kalau tidak salah, ya. Meskipun kalau sekarang harusnya anak SMP ambil programnya English for Teens). Terdapat 12 level dalam program ini: 4 level Elementary, 4 level Intermediate, dan 4 level Higher Intermediate.

Alhamdulillah, hasil placement test aku masuk di Intermediate 2 (atau 1 aku lupa haha, tapi yang aku inget aku ngga lewat level Elementary). Aku ikut les sampai lulus intermediate 4 (kira-kira setahun) dan tidak melanjutkan lagi karena mau fokus untuk UN (saat itu bertepatan aku naik kelas 3 SMP).

Menginjak bangku SMA, lagi-lagi aku mengikuti kursus Bahasa Inggris, tetapi tidak lagi di LIA, melainkan di Harvard English Course di jalan Buah Batu. Aku mengikuti suatu program yang hanya terdiri dari 4 level. Konon katanya, sulit sekali untuk bisa naik level. Alhamdulillah, hasil placement test aku masuk di level ke 2. 

Nah, yang unik dari tempat les ini adalah aku bisa ikut placement test KAPANPUN dan masuk ke kelasnya KAPANPUN haha. Jadi meskipun di level 2 harusnya aku belajar sekitar 4 bulan, waktu ada ujian dan aku udah belajar sekitar 2 bulan, aku udah diijinin buat ikut ujiannya. Dan Alhamdulillah, luluss~ 

Aku ikut program ini sampai lulus di level 4 meskipun tiap levelnya tak sampai tuntas durasi kursusnya (setiap level harusnya sekitar 6 bulan, tapi aku jadi peserta ujian karbitan wkwk). Setelah itu aku fokus bimbel untuk persiapan UN SMA dan SBMPTN.

Waktu kuliah tingkat pertama, aku lagi-lagi ikutan les Bahasa Inggris di lembaga. Kali ini aku balik lagi ke LIA untuk program persiapan TOEFL. Alhamdulillah waktu placement test tidak harus memulai dari level pertama. Tapi sayangnya aku harus berhenti di tengah jalan karena SEMUA peserta di kelasku adalah mahasiswa Telkom University dan mereka lah yang nge-drive jadwalnya sehingga aku sering mengalami bentrok dengan kuliah.

Waktu tingkat keempat, aku ikut kelas Bahasa Inggris khusus program Academic Writing untuk persiapan ngerjain TA dan IELTS di The British Institute selama kurang lebih 3 bulan. Di sini tipe belajarnya tidak menggunakan ujian (which is sebenernya kurang menantang buatku, aku selalu senang menantang diri untuk menjadi peraih nilai ujian terbaik di kelas) tetapi lebih ke arah memperbaiki cara siswanya menulis dalam konteks akademik.

Dari seluruh pengalaman kursus Bahasa Inggris yang sudah aku paparkan, aku akui kalau belajar bahasa di lembaga resmi memang sangat terstruktur dan lengkap. Aku dan pelajar lainnya dipersiapkan untuk bisa berkomunikasi dengan Bahasa Inggris melalui program-program tersebut. Jadi setiap bab materinya selalu ada materi reading, listening, writing, dan speaking dengan tetap mempelajari structure. Jadi, jelas kami tidak mempelajari ilmu Bahasa Inggris tetapi mempelajari Bahasa Inggris sebagai bahasa komunikasi. Perbedaannya adalah mempelajari ilmu Bahasa Inggris berarti mengedepankan teori sedangkan mempelajari Bahasa Inggris sebagai bahasa komunikasi berarti mengedepankan praktek.

Ternyata, dari semua pengalaman kursus itu, aku belum juga cukup fasih berbahasa Inggris haha. Berbeda dengan Pak Suami yang setahu aku cuma kursus di Kampung Inggris tapi Bahasa Inggrisnya lantjar djaja padahal waktu tingkat 2 pernah ngobrol pakai bahasa Inggris lewat FB Messenger masih belepotan. Wajar sih, dalam waktu 3 tahun, Pak Suami sudah ke Thailand dan 2 kali ke Jepang, juga ikut konferensi internasional, juga ikut program riset dengan profesor dari UChicago. Praktek memang tidak pernah mengkhianati hasil ya wkwk.

Bahasa Jepang 

Pertama kali aku belajar Bahasa Jepang dari ekskul Nihongo Kurabu di SMA 3 Bandung. Berhubung aku juga join eksulnya di tengah-tengah, jadilah ikut belajar Bahasa Jepang di tengah-tengah. Tapi kebetulan waktu itu masih dasar sih, buat kalimat dengan subjek, predikat, objek. Karena ini sifatnya belajar yang tidak terstruktur, akhirnya berhenti di tengah jalan dan menyisakan satu pengetahuan untukku, “Watashi wa gohan o tabemasu” (Saya makan nasi). Intinya cuma pola kalimat di Bahasa Jepang itu S-O-P.

Akhirnya, aku ikutan les di lembaga setelah lulus kuliah karena mengira Pak Suami (waktu itu masih calon) bakal bawa aku ke Jepang, ternyata di bawanya ke Swiss ekekeke. Seperti kursus Bahasa Inggris, di sini belajar Bahasa Jepang untuk kebutuhan komunikasi. 

Materi awalnya pasti tentang sapaan, memperkenalkan diri, lebih ke arah komunikasi verbal dan kemampuan membaca tulisan karena Bahasa Jepang punya aksara sendiri. Waktu itu aku daftar untuk 2 level, ikut les selama kurang lebih 3 bulan di level pertama dan lulus, tapi ngga lanjut karena aku ikut Pak Suami ke Swiss. Berhubung bahasa ini hampir nggak pernah aku pakai, jadilah lupa semuanya, termasuk aksaranya haha.

Bahasa Jerman

Aku ikut les privat sama temen sekamar asrama pesantren pas kuliah tingkat 3. Berhubung kursusnya bukan sama lembaga, harganya pun jadi miring. Kalau ngga salah 200ribuan untuk 1 level A.1.1. Iya, ini disesuaikan dengan level kecakapan Bahasa Jerman (eh, bahasa di wilayah Eropa, CEFR istilahnya. Bahasa Inggris juga menggunakan standar ini. Bisa dilihat pada hasil TOEFL dan IELTS). Karena les sama temen, jadinya waktunya sangat flexible dan penekanannya sama komunikasi aja, aku cuma tau sedikiit banget soal penulisan. Lagi-lagi, karena ngga pernah dipakai, jadinya cuma ingat ‘Gutten morgen’ awkwkwk.

Bahasa Arab

Aku pernah mengikuti Program BISA dari Yayasan BISA, belajar kitab Al-Muyassar, dan dapat pelajaran Bahasa Arab waktu ikut program pesantren mahasiswa di Daarut Tahuhiid. 

Entah mengapa, terdapat kesamaan dari ketiga program yang aku ikuti ini, yaitu lebih fokus ke teori ketimbang praktek komunikasi meskipun pelajaran Bahasa Arab di pesantren masih ada materi percakapannya. Di Program BISA aku belajar Ilmu Sharaf (salah satu cabang ilmu dalam Bahasa Arab) dan pernah juga ikut program BINA (ilmu nahwu) meskipun di drop out. 

Kitab Al-Muyassar juga membahas Bahasa Arab dari sisi ilmu nahwu meskipun ada materi tentang ilmu sharafnya juga. Alhasil, dari pengalaman belajar Bahasa Arab ini aku nggak bisa komunikasi menggunakan Bahasa Arab sama sekali tapi aku bisa menyusun kalimat pendek dan mulai bisa tahu arti kata-kata dalam Al-Quran meskipun ngga lihat terjemahannya.

Ternyata, khusus untuk bahasa Arab, ada satu metoda yang memang cocok denganku dan sepertinya memang langkah belajarnya harus seperti ini. Kalau pada bahasa lain, pelajaran untuk pemula biasanya dimulai dengan percakapan sehari-hari. Nah, kenyataannya, untuk menyatakan saya sedang melakukan sesuatu atau orang lain sedang melakukan sesuatu, bukan dalam bentuk perubahan komponen kalimat, tapi hanya perubahan komponen kata. Misal, untuk menyatakan ‘Saya sedang duduk’ apabila dalam kebanyakan bahasa akan ditranslasi perkata menjadi 3 kata juga. Kalau dalam bahasa Arab, cukup dengan kata أَجْلِسُ. Untuk menyatakan ‘Dia (perempuan) sedang duduk’, cukup dengan kata تَجْلِسُ. Kalau dilihat, perubahannya hanya terjadi pada satu huruf saja. Pola-pola semacam inilah yang menurutku penting untuk dipelajari sebelum kita membuat kalimat sederhana, meskipun ada juga kalimat dalam bahasa Arab yang bisa dibuat dengan translasi perkata. 

Inilah sifat bahasa Arab yang menurutku sangat keren, yaitu komprehensif. Bahkan, dalam membuat kalimat di bahasa Arab, tidak terpaku pada 1 struktur kalimat (S-P-O, misalnya), posisi setiap komponen kalimat bisa diubah dengan menyesuaikan apa yang ingin ditekankan karena setiap subjek, predikat, dan objek memiliki tandanya sendiri dan tidak terpengaruh oleh urutan dalam kalimat. Sistem morfologi dan grammar seperti ini yang menurutku sebaiknya dipelajari terlebih dahulu, seperti yang aku pelajari meskipun hasilnya, aku belum bisa berbicara, tetapi aku bisa membuat kalimat sederhana.

Terus apa yang mau aku bagi dari pengalaman ini? Pertama, kamu harus tahu kalau kamu mau ambil kursus bahasa asing, apa yang betul-betul kamu perlukan. Apakah kamu perlu bisa berkomunikasi atau mau belajar ilmunya? Kalau mau bisa berkomunikasi, ambil program yang mencakup 4 kemampuan: speaking, listening, reading, dan writing. Atau khusus conversation aja, biasanya buat istri-istri yang mau ikut suaminya ke luar negeri. Tapi kalau bahasa asingnya punya aksara sendiri, mau ngga mau harus belajar aksaranya. Kalau mau belajar ilmunya, kamu bisa ambil kursus khusus ilmu tertentu dalam bahasa tersebut, misalnya seperti kursus Bahasa Arab yang aku ambil, khusus Ilmu Sharaf. 

Kedua, setelah kursus harus sering di murojaah (maksudnya diulang dan dipakai). Percuma kalau ngga pernah dipakai, hanya akan jadi pengetahuan yang bisa terlupakan oleh otak. Minimal coba sering dengerin podcast atau nonton video YouTube menggunakan bahasa tersebut. 

Terakhir, kamu bisa, kok belajar sendiri dengan metodamu sendiri karena ngga semua orang cocok dengan metoda belajar di tempat les. Ayahku ngga pernah menyentuh tempat les Bahasa Inggris tapi sekarang cas cis cus ngomong Bahasa Inggris sama bule meskipun waktu pertama kali ke luar negri beliau bawa kamus ke mana pun. Jadi, setiap ngomong, nengok kamus dulu heu heu. Tapi, standar kesuksesan dari belajar sendiri, ya, tergantung kemauanmu dan seberapa lama kamu belajar. Kalau belajarnya hangat-hangat tahi ayam, ya, perlu waktu lama untuk bisa fasih menggunakan bahasa itu.

Yak, sekian dulu curhatku. Kalau aku cerita soal pencapaianku dalam berbahasa asing, mohon jangan dianggap pamer, ya. Tulisan ini aku buat semata-mata supaya jadi pelajaran untuk pembacanya supaya mempelajari bahasa sekaligus mempraktekannya karena percuma sekali kalau mengerti teorinya tapi payah dalam prakteknya (kayak aku hiks… rasanya sampai lidah kelu dan membisu waktu diajak ngomong sama orang asing).

Ilma Purnomo (Mama Razin)
Perempuan Indonesia yang saat ini tinggal di Chicago, USA, menemani suami kuliah doktoral. Seorang ibu rumah tangga yang disibukkan oleh dua putranya (Razin dan Zayn). Suka menulis dan belajar hal baru.

Related Posts

1 komentar

  1. MasyaAllah, multilingual ini mah.. ditambah bahasan Indonesia, bahasa daerah.. tuh berapa sudah mb :D

    BalasHapus

Posting Komentar