Mama Razin (Ilma Hidayati Purnomo)

Tantangan Menjadi Bloger Usia Dini

He? Emangnya Mbak Ilma masih usia dini? Usia dindong kali, ye. Hush, jangan susudzon dulu, Sis. Aku tuh mau cerita perjalananku mengarungi dunia blogging bersama anak-anak blogku, yang aku mulai sejak usia dini.

27 oktober 2021
Tulisan ini dipersembahkan untuk memeringati Hari Bloger 

Awal Mula Perkenalan

Jadi, Sis, dulu aku kenal si dia gara-gara guru di sekolah. Ecie, mak comblangnya guru, ya. Terekdung ces... Ini bahas orang apa blog, sih?

Wes, kembali ke blog. Suatu hari di tahun 2008, aku mulai belajar ilmu per-coding-an. Waktu itu aku duduk di kelas 2 SMP. Gaya banget, ye, jaman segitu udah belajar ngoding. Ga paham juga sih kenapa sekolahku di Kota Bandung itu punya kurikulum ngoding di tahun segitu buat anak SMP.

Terus, aku belajar bahasa pemrograman html, bikin halaman situs. Seru pisan, asli. Nambahin gambar, bikin tulisan gerak-gerak, nambahin warna. Euuuh... kayak lagi ngedesain rumah sendiri.

Bikinnya di Joomla, CMS (Content Management System) cem Wordpress. Aku demen banget kalau sama guru TIK disuruh ke lab terus ngutak-atik nambahin ini itu. Dah, tenggelam lah aku di dalamnya.

Nah, somehow, aku juga ga inget pasti, aku mulai melirik tuh si Blogspot. Keknya karena guru TIK aku nge-mention tentang itu di kelas. Yowes, di dekstop rumah aku mulai ngutak-atik lah.

Ini aku harusnya ngasih credit ke bapak guru TIK yang sangat berjasa ini, ya. Tapi aku lupa namanya euy. (Dasar siswa durhaka)

Yawdah, gitu aja awal perkenalannya haha. Monmaap ini tulisan sangat gajelas yak. Soalnya aku ingin melampiaskan kehampaanku karena hape sempet disita. Jadi gabisa update blog seenak jidat.

Masalahnya, kalau di laptop itu, anak-anak suka gak terima. Mending liat mamanya tergelepar dan terlelap dalam mimpi daripada liat mamanya ngetik di laptop. Alamak...

(Itu serius lho. Aku tidur, mereka asyik main. Gilirannya aku buka laptop, mereka langsung ngerengek parah)

Tantangan Menjadi Bloger di Jaman Itu

Tantangan anak SMP menjadi bloger tahun 2008

1. Internet kayak kadal

Iye, kayak kadal bukan siput. Lemot, udah pasti. Tapi kadang bikin kesel juga. Dulu tuh kan aku pakenya sambungan internet dari colokan kabel telpon. Apa ya, Telkomnet Instan kayaknya. Yang baca nama itu dan loading dulu, selamat, kalian adalah manusia yang sudah terselamatkan dari perang dengan kabel telpon.

Jadi, kabel UTP (Alamak, kabel colokan telpon itu lah, gak ada yang tau? Tua kalik aku nih!), kucolokkan ke bagian belakang CPU dekstop. Terus aku mulai dial. Suaranya itu mulai dari tenong...tenong...tenong.... kresek....kresek...kresek... sampai akhirnya hening. Dah, tersambung.

Kecepatannya berapa? Paling cuma puluhan byte atau ratusan byte perdetik. Sekarang kecepatan internet berapa? 20Mbps yak. Itu berarti, kecepatan sekarang udah 2.000.000 kali atau 200.000 kali lebih cepat. Warbyasak!

Dulu aku mau download video atau lagu recehan yang cuma 1Mb aja butuh waktu satu atau dua hari. Sungguh, aku adalah generasi remaja yang sabar. Di read doang mah masih biasa aja. Dibanding download udah ditungguin satu hari, udah jalan setengah lebih, pet.... internet mati bablas, buyar!

Jan, kayak kadal! Bisa ngakali!

2. Materi ajar minim

Yoyoy, belajar ngeblog juga butuh materi dongs. Bisa aja sih aku langsung praktek coba ini itu, tapi kan kalau ada tuntunan, aku gak perlu ngabisin waktu buat memahami 'oh ikon ini buat nebelin kata, toh'. Wes, tinggal klik ngono ae.

Dulu, Mbah Google masih cupu gaes. Belum ahli dalam dunia persilatan, eh, engine search-an. Kan dulu mah yang nge-trend itu Yahoo! Hayo, ada yang masih punya akun email Yahoo, gak?

Dulu, nyari artikel di Google, tau gak yang ranking page one cem mana? Artikelnya tipis banget, Bos. Separagraf doang. Duh. Sedih aku juga bacanya. Kayak ga niat!

SEO mah dulu belum nge-trend. Sekarang tiap belajar blogging mesti ada SEO nya yang bikin ter-seo-seo (eh terseok-seok yak). Masih gampang lolos indexing lah kalau dulu. 

Walhasil, tingkat kepercayaan hamba terhadap Google masih minim, masih percaya sama buku. Beli lah buku pedoman Blogspot gitu. Kecil ukurannya, warnanya biru. Sekarang, aku cari di Google aja gak ketemu.

Berbahan buku saku itu lah aku menjelajahi Blogspot. Tereng-tereng...

3. Dipantau orang tua

Anak sekarang bisa bebas pakai laptop tanpa adanya mata orang tua yang ikut nempel di layar? Haha! Aku gak bisa, Gaes. Desktop segede gambreng gitu gak bisa aku bawa-bawa. Mana ditaroh di ruangan yang sangat strategis, di ruang tamu! Nyoh, tamu aja bisa nengok apa yang aku lakukan di komputer.

Walhasil, aku gak bisa bebas berkreasi dan berekspresi di blog. Nulis yang normal aja. Gak berani curhat kecengan. Kecuali aku berhasil punya alasan buat bersemedi di warnet, ya. Biasanya alasan teknis sih, kalau gak ada tugas sekolah mau deadline dan internet rumah kayak kadal, ya keyboard di rumah udah jebol. Gitu aja, sih.

4. Tugas sekolah menyita waktu

Wajarlah ya, namanya juga masih SMP. Masih berambisi menjadi anak cemerlang dengan rangking memikat dan memukau. Blog masih sering terabaikan. Terpantau dalam tahun 2009 cuma ada 3 postingan. Hmm, sangat rajin, ya.

Eh tapi, aku seneng betul mendandani tampilannya, lho. Aku ubah widget-widget-nya, yang mana beberapa tahun kemudian, aku hapus semua itu dan aku lupa lagi caranya. Sangat membuatku ingin mengumpat ke diri sendiri. Super sekali ya (:

Bagaimana kelanjutannya?

Tapi akhirnyaaa, di tahun 2012 setelah aku masuk ke perguruan tinggi, blogku hidup lagi, dong! Tau alasannya kenapa? Aku galau setengah hidup!

Aku masuk ke jurusan yang aku gak seneng. Aku jatuh cinta dengan dia yang tak bisa aku nikahi. (Bukan hubungan sedarah, loh, ya. Itu lho, anu, orang tua ga bakal setuju karena perbedaan. You know lah, ya). Dan seabrek kegalauan lainnya yang rasanya gak pantas aku tulis di beranda Facebook karena aku temenan karo bapakku (:

Pokoknya itu blog isinya kegalauan lah. Sampai akhirnya aku menikahlah dengan seorang pemuda yang direstui oleh orang tua. Bapak suami ini menyarankan aku buat ngeblog di Medium aja. Btw, bapak suami ini juga suka kalau aku nulis pengalaman berharga dari hidup aku. Supaya aku ingat dan orang lain bisa belajar juga.

Nah, setelah mengarungi pasang-surut rumah tangga, wets, ada apa nih. Gak deng, setelah beranak pinak sampai dua bocils, aku mulai berpetualang di dunia Instagram dan menemukan blog coaching besutannya Mbak Marita Ningtyas di pertengahan 2021.

Sejak saat itu, dunia bloggingku berubah.

Ya, aku belajar cara nulis di blog yang bener. Belajar SEO juga. Sampai akhirnya aku bisa memenangkan dua lomba blog bulan lalu. Bersyukur sekali bisa ikut program itu dan sampai sekarang masih bisa merasakan manfaatnya. Baru-baru ini baru dapet job pertama juga. Uhuy! 

13 tahun blogging dan baru menjalani kehidupan sebagai bloger yang bener ya, beberapa bulan ini. Sangat bersyukur juga bisa menemukan komunitas-komunitas lainnya. Makin semangat nulis jadinya!

Jadi, gimana caraku mengatasi tantangan menjadi bloger usia dini? Ya dengan menua seiring waktu wkwk. Kalau temen-temen masih menemukan halang rintang, sabar. It takes time to be a pro. And you need a mentor to be a pro.

Semangat!

Ilma Purnomo (Mama Razin)
Perempuan Indonesia yang saat ini tinggal di Chicago, USA, menemani suami kuliah doktoral. Seorang ibu rumah tangga yang disibukkan oleh dua putranya (Razin dan Zayn). Suka menulis dan belajar hal baru.

Related Posts

Posting Komentar